Mendikbud: Guru Harus Bisa Jadi Teladan

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, menekankan pentingnya keteladanan guru dan tenaga kependidikan (GTK) sebagai syarat suksesnya pendidikan. Bagi Mendikbud, seluruh peserta Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi Tahun ini harus siap menjadi teladan, baik bagi rekan sesama profesi, maupun bagi peserta didik.

“Mudah-mudahan keberadaan saudara-saudara sekalian di suatu lingkungan ekosistem pendidikan, bisa menjadi contoh, menjadi teladan. Sehingga bisa menjadi tempat bercermin kalau orang ingin mematut diri sebagai guru yang baik, guru yang hebat, bisa dijadikan contoh,” disampaikan Mendikbud dalam malam Apresiasi Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi Tahun 2018, di Jakarta, Rabu (15/8/2018).

Menurut Muhadjir, problem pendidikan saat ini, disamping terkait materi ataupun metodologi pembelajaran, hal terpenting adalah kurangnya keteladanan. Ia berharap agar para peserta Pemilihan GTK Berprestasi dan Berdedikasi, baik yang menjadi juara maupun tidak, harus siap menjadi teladan di daerahnya masing-masing.

Lebih lanjut, mantan Rektor Universitas Muhamadiyah Malang ini mengimbau agar para guru bersungguh-sungguh menjadi pendidik yang mampu memberikan keteladanan, bukan sekadar menjadi pengajar. Karena ruh pendidikan, baginya, adalah tentang keteladanan.

“Jika guru tidak bisa menjadi teladan, maka hilanglah jati diri keguruannya. Karena itu, keteladanan inilah yang kita dorong. Bagaimana guru tampil sebagai teladan, atau the significant other,” tutur Muhadjir.

Pemilihan Guru dan Tenaga Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi Tingkat Nasional Tahun 2018 diikuti 908 orang GTK dari 34 provinsi dan Sekolah Indonesia di Luar Negeri. Peserta terdiri dari unsur guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, dan tenaga kependidikan yang merupakan hasil seleksi berjenjang dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, kemudian nasional. Tahun ini kategori mata lomba dibagi menjadi 39 kategori, dan ditentukan pemenang juara I, II, dan III untuk semua kategori lomba.

Teladan di Garis Terdepan

Istiqlal (50), Kepala Sekolah Indonesia Kinabalu di Malaysia, yang merupakan juara I Kepala Sekolah Berprestasi dan Berdedikasi Satuan Pendidikan Indonesia di Luar Negeri Tahun 2018 mengungkapkan rasa bangganya karena bisa ikut berkontribusi menghadirkan negara untuk masyarakat di garis terdepan. Sekolah Indonesia di Malaysia memiliki 295 CLC (community learning center), tersebar di Tawau, Kota Kinabalu, dan Kuching. Satuan pendidikan ini melayani lebih dari 25 ribu peserta didik yang merupakan anak Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi buruh kebun sawit.

“Kami ingin anak-anak ini kembali ke Indonesia, ke kampung orang tuanya untuk terus bersekolah. Kemudian kembali lagi, ‘angkat’ orang tuanya. Hanya pendidikan yang mampu memutus rantai perburuhan,” tegasnya.

Dengan keterbatasan tim manajemen, sebagai manajer sekolah Indonesia terbesar di dunia, Istiqlal merasa perlu menghadirkan sistem manajemen mutu yang disebutnya gugus kendali mutu. “Sekolah kami satu-satunya Sekolah Indonesia di Luar Negeri yang mendapatkan ISO 9001:2015 dengan manajemen risiko,” jelasnya.

Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dimanfaatkan untuk melakukan koordinasi kegiatan belajar mengajar agar dapat berjalan dengan lancar dan baik. “Kami buatkan whatsapp group, SD juga SMP. Kami berunding, berurun rembuk melalui grup itu,” ungkap pria yang memasuki tahun keempatnya menjadi Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu ini.

Salah satu kendala yang ditemui Istiqlal adalah partisipasi orang tua yang kurang dikarenakan rendahnya tingkat pendidikan. Hal tersebut kemudian diatasi melalui pendekatan komunitas berupa paguyuban orang tua siswa. Motivasi pendidik dan orang tua dirangsang melalui diskusi menggunakan messenger, serta kompetisi Inobel atau inovasi belajar.

Memilih Guru

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Si Belerang Merah, Syaikh Muhyiddin Ibn ‘Arabi (1165-1240), dengan tegas menyatakan dalam kitab Hikamnya: “Pastikan dengan baik bahwa engkau mendapatkan ilmu agama itu dari orang yang telah mewarisi nilai-nilai kenabian.”

Apa yang sebenarnya diinginkan oleh sang sufi yang telah menyelami samudra ilmu keilahian itu? Bagi dia yang sezaman dengan Maulana Jalaluddin Rumi itu, belajar agama tidak saja dipahami sebagai transformasi ilmu agama secara an sich dari seorang guru kepada santri-santrinya.

Tapi lebih dari itu juga merupakan transformasi spiritualitas dan keteladanan yang mulia dan bermartabat. Artinya adalah bahwa seorang guru agama dalam konteks roh keislaman tidak boleh hanya menularkan “konsep” atau pelajaran semata. Dia harus menjadi orang pertama yang berikhtiar dengan sungguh-sungguh mengejawantahkan ilmu yang “dijajakannya” itu.

Sebelum memerintahkan wudhu kepada umatnya, junjungan dan tauladan terbaik dan terluhur bagi kita, Nabi Muhammad Saw, telah terlebih dahulu melaksanakan wudhu. Demikian pula dengan shalat dan berbagai perintah agama lainnya. Beliau adalah orang terdepan yang mengimplementasikan ke dalam tindakan nyata dengan “mulus” ajaran-ajaran risalah yang diembannya.

Seorang guru agama dalam Islam ibarat sebuah sendang. Kalau air yang menggenang di dalamnya jernih, maka setiap orang yang menimba di situ akan mendapatkan air yang jernih pula. Tentu saja dengan adanya suatu pengecualian. Yaitu, kalau wadah yang dipakai untuk menimba itu tidak belepotan dengan lumpur atau kotoran lainnya. Tapi kalau kotoran itu cuma sedikit, pastilah air itu tetap kelihatan jernih.

Itulah sebabnya kenapa Ibn ‘Arabi sendiri senantiasa mengembara untuk menjumpai sendang-sendang rohani yang jernih yang sanggup membersihkan debu-debu dan luka, menyegarkan jiwa dan meneguhkan harapan-harapan keilahian yang rimbun di dalam batinnya. Semua itu didapatkan di dalam diri dan teladan mereka yang telah wushul terlebih dahulu kepada Allah Ta’ala. Dan tidak tanggung-tanggung, yang pernah dijumpai oleh beliau untuk mendapatkan ilmu dan barokah itu lebih dari seribu orang.

Karena itu, merupakan hal yang masuk akal kalau kemudian dinyatakan bahwa beliau tidak lain adalah representasi yang sangat tangguh dan mumpuni di bidang spiritualitas dan ilmu keilahian dalam kancah sufisme. Bahkan ada seorang investigator literatur-literatur sufisme yang dengan tegas menyatakan bahwa seluruh karya sufi yang lain sebenarnya secara ontologis tak lebih dari sekedar catatan kaki dari kitab-kitab Ibn ‘Arabi.

Sedangkan sendang yang kotor, keruh dan bau tengik, apakah yang bisa ditimba dari situ selain air yang tidak bermutu dan bahkan sangat berbahaya untuk dikonsumsi oleh manusia? Bahkan binatang pun mungkin tidak sudi.

Dari seorang guru yang tidak pernah berpapasan dengan cakrawala keilmuan dalam Islam, dari seorang guru yang hanya mengenal satu perspektif keagamaan yang kelam di gorong-gorong pemikirannya yang sumpek, dari seorang guru yang bisanya cuma mencaci-maki dan memberikan stempel sesat, kafir, syirik dan bid’ah kepada siapa saja yang tidak sewarna dengan pemahaman dan mazhabnya, apa yang bisa didapatkan selain bangga diri yang kusam dan gemuruh kebencian yang legam?

Sungguh, betapa sangat penting memiliki guru yang sanad keilmuan dan keluhuran budi pekertinya tersambung dengan orang paling luhur di dunia dan akhirat yang bahkan Allah Ta’ala sendiri turun tangan memujinya. Yaitu, Nabi Muhammad Saw.

Oleh: Kuswaidi Syafiie.

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.

Insan Kamil

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Judul di atas menunjuk kepada seseorang yang telah dianugrahi kesanggupan untuk menampung sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala. Secara fisik, dia tidak lain merupakan makhluk sebagaimana orang lain pada umumnya. Akan tetapi secara ontologis dia adalah pengejawantahan dari kehadiran hadiratNya yang begitu gamblang terbaca pada berbagai tindakan dan perilakunya.

Dialah manusia sempurna yang kepadanya telah dianugrahkan karunia terbesar. Yaitu mendapatkan Allah Ta’ala itu sendiri. Mana ada karunia yang lebih besar di dunia ini dan di akhirat nanti dibandingkan dengan mendapatkan hadiratNya? Tak ada dan tidak akan pernah ada. Sungguh, beruntunglah manusia sempurna itu.

Yang pertama dan paling utama dari manusia sempurna itu tidak lain adalah Nabi Muhammad Saw. Dan setelah beliau adalah orang-orang yang paling mirip secara kualitatif-spiritual dengan beliau dari kalangan para nabi dan wali yang tersebar di dunia ini dari dulu hingga sekarang yang jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu orang.

Tentang manusia sempurna itu, Allah Ta’ala telah berfirman dalam salah satu hadis qudsiNya, “الإنسان سري وأنا سره/ Dia itu adalah rahasiaKu dan Aku merupakan rahasianya.” Artinya adalah bahwa “alamat” Allah Ta’ala itu tersimpan rapi pada diri insan kamil. Mengamatinya dengan ketajaman mata batin akan menjadikan kita atau siapa saja menemukan sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan-perbuatan hadiratNya. Sedang bagi si insan kamil, Allah Ta’ala itu merupakan pelabuhan dari seluruh hidup dan matinya.

Secara spiritual, insan kamil itu merupakan sumbu bagi berlangsungnya kehidupan di seluruh alam raya. Bagaimana mungkin tidak, sedangkan kepadanya diserahkan oleh hadiratNya tidak saja pengetahuan secara detail tentang segala sesuatu yang ada dan terjadi, tapi lebih dari itu dia juga dianugrahi kesanggupan untuk mengaturnya sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala. Secara rohani, seluruh partikel alam semesta mengitarinya dengan penuh khidmat.

Ada pertalian yang sangat indah dan kuat antara seorang insan kamil dengan Allah Ta’ala. Dialah perpanjangan tangan hadiratNya dalam mengelola berlangsungnya roda-roda kehidupan. Karena itu dapat dimaklumi dan dipastikan bahwa ilmu pengetahuan yang ada pada diri insan kamil merupakan salinan langsung dari ilmu yang dimiliki oleh Allah Ta’ala. Baik ilmu itu secara global maupun secara terperinci.

Pertalian itu juga sangat indah dan kuat antara pena (al-qalam) dengan roh seorang insan kamil. Dalam konteks kepustakaan sufisme Ibn ‘Arabi, yang disebut pena Ilahi itu tidak lain adalah ilmu pengetahuan yang mendetail tentang segala sesuatu yang ada di alam semesta. Semua ilmu pengetahuan itu tertata dengan rapi di cakrawala roh insan kamil.

Demikian pula antara Lawh Mahfuzh dengan hati seorang insan kamil, pertalian di antara keduanya sangat sublim. Dalam konteks ini, Lawh Mahfuzh itu dipahami sebagai “tempat” pembukuan dan pencatatan segala sesuatu yang berlangsung hingga batas tertentu. Karena itu, tidak satu daun gugur pun yang tidak terdeteksi oleh pengetahuan seorang insan kamil.

Pun, antara istana (al-‘Arsy) Ilahi dengan jasmani seorang insan kamil terdapat pertalian yang kukuh. Sebagaimana juga antara kursi hadiratNya dengan nafsu seorang insan kamil. Konotasi istana Ilahi itu menunjuk kepada persemayaman nama-nama Allah Ta’ala yang dipakai untuk mengatur semesta. Sedang yang disebut dengan kursi Ilahi itu tertuju kepada posisi perintah dan laranganNya.

Begitu sangat indah dan kuat hubungan antara insan kamil itu dengan hadiratNya. Sampai-sampai Nabi Muhammad Saw bersabda: “Barangsiapa melihatku, maka sungguh dia melihat Allah Yang Mahabenar.” Wallahu a’lamu bish-shawab.

Oleh: Kuswaidi Syafiie

Malu Aku Padamu, Duhai Sayyidul Wujud!

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula hati ini malu luar biasa. Perasaan itu terbawa sepanjang tahun hingga tibalah peringatan hari kelahiran Nabi SAW tahun berikutnya. Ia dilahirkan sebagai seorang yatim. Tidak berselang lama sang ibunda pun wafat menyusul ayahandanya. Aku dibesarkan oleh kedua orang tua hingga jelang dewasa, namun kedewasaan masih tak juga singgah di jiwaku yang terus saja kekanak-kanakan ini. Akankah aku menua sia-sia?

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula hati ini malu luar biasa. Meniti masa remaja dengan menjaga neraca keadilan, jujur, berkata benar, dan tidak berkata selain yang benar itu, Sang Nabi SAW bahkan sampai dijuluki Al-Amin oleh umat. Jauh berbeda dengan masa remaja yang kuhabiskan untuk memaknai jati diri sesuka hati. Dengan dalih masa pubertas, aku mulai tidak adil bahkan pada panca inderaku sendiri dan belajar berdusta demi kesenanganku sendiri.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula hati ini malu luar biasa. Suri teladan yang bernama Muhammad ibn Abdullah ini berangkat menuju malam dengan memasuki Gua Hira. Berteman sepi, ia memenuhi dirinya dengan sunyi. Menundukkan kepala, tak lepas dari memuji Tuhannya, berkhalwat, hingga kemudian Allah turunkan baginya wahyu. “Iqra! Bacalah!” demikian Allah berfirman padanya. Betapa malu, jelang dewasa aku bahkan masih buta mata hati.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali pula aku malu luar biasa. Tahun-tahun menuju kedewasaan terlewatkan tanpa arti. Bukan sepi yang kucari, tapi ramai yang semu. Bukan petunjuk Ilahi yang kunanti, tapi brosur-brosur duniawi yang kuburu, kenikmatan kamuflase. Jangankan untuk membaca diri, untuk sekadar mengenali setiap sendi pada diri saja aku belum mampu. Padahal, setiap sendi—bahkan yang lebih rinci dari itu—adalah ayat-ayat kauniyah dari Allah.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiapkali itu pula aku malu luar biasa. Ia, Sang Utusan Allah, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, mengatakan, ”Sesungguhnya setiap manusia, anak keturunan Adam, diciptakan mempunyai 360 persendian.” Dan, dalam hadits lain, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, manusia diwajibkan menyedekahi setiap persendian itu. Tapi, jangankan sedekah, aku justru suka mengambil lebih banyak, bahkan acap mengambil hak orang lain.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia, Sang Nabi Penutup, setia mengetuk pintu satu per satu demi menebarkan salam dan kasih sayang. Rela diludahi, dihina, dan dimusuhi demi membawa Risalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Ia hadir untuk menyempurnakan akhlak mulia. Sedangkan aku? Aku ke mana-mana menggedor kasar, mencari panggung pengakuan, menuntut dimuliakan, dan jumawa ilmu padahal rendah adab.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia, ayahanda Fatimah Az Zahra ini, berani meninggalkan zona kenyamanan. Nyaris tak pernah tidur kecuali sangat sebentar, bersabar menerima setiap keluh kesah dan pertanyaan, bersandar pada Allah untuk setiap jawaban yang disampaikan, dan oleh karena itulah ia selalu menjadi rujukan. Sejak memimpin Kaum Quraisy meletakkan Hajar Aswat ke Ka’bah, ia tak pernah berhenti berperan jadi penengah.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia, yang adalah Nabi, Rasul, Pemimpin Umat, dan Uswatun Hasanah itu, masih terus beristighfar dan bersujud dengan rendah hati. Sampai-sampai, Allah Yang Maha Suci memperjalankannya dalam Isra’ Mi’raj dalam kedudukan Muhammad SAW sebagai hamba. Aku? Berkedudukan, tidak. Berjasa, tidak. Berilmu pun tidak. Tapi, tidak lekas menghamba. Tinggi hati. Tak jua mau mengaku sahaya padaNya.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ke mana perginya usiaku dari tahun ke tahun? Jangankan hijrah dari Makkah ke Madinah, melepaskan diri dari bayang-bayang alas kaki para leluhurku saja aku tak bernyali. Nama mereka yang terus kusebut-sebut untuk melindungi hatiku yang ciut. Seolah-olah membanggakan orangtua dan garis ke atasnya, padahal karena aku tak mampu menjadi penerus, apalagi menjadi lebih baik dari mereka.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia senantiasa terhubung dan tersambung dengan Allah, menerima Kalam Ilahi tak kurang dari enam ribu ayat selama 23 tahun, menyampaikan petuah hingga ketika dihimpun mencapai ribuan hadits, namun tetap menghargai proses. Dengan lembut Muhammad SAW menyampaikan, yang terbata-bata membaca Al-Qur’an niscaya menerima pahala berlipat ganda. Ia terus membesarkan hati umat.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia perhatikan betul apa yang keluar masuk dari mulutnya—ucapan dan santapan. Dalam hal berucap, ia tak berkata dusta, tak berkata kotor, pun tak berkata kasar. Dalam hal bersantap, ia mengatur kuota muatan perut: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk udara. Hanya makan ketika ia lapar, berhenti sebelum merasa kenyang. Tidak mubazir dan tamak sepertiku.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia mengkhawatirkan umatnya. Menjelang akhir hayat, Muhammad SAW berseru, ”Ummati, ummati, ummati.” Kelak di akhir masa, Kanjeng Nabi memberikan syafaat setelah Allah menganugerahinya rahmat. Tapi, lihatlah, aku mengkhawatirkan diriku dan urusanku sendiri, keuntungan dan keberuntunganku sendiri. Bahkan, tujuan bershalawatku pun agar aku yang dipuji.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia bersabda, menuntut ilmu diwajibkan bagi muslim laki-laki dan perempuan, sejak dilahirkan hingga diwafatkan, bukannya belajar justru aku lebih suka menggurui. Bukannya menguatkan iman agar makin kuat keislamanku, semakin tinggi ilmuku justru semakin mudah aku mengkafirkandan mengkafir-kafirkan orang lain. Nabi mengatakan, ”Ilmu adalah cahaya,” tapi aku justru semakin gelap dalam gulita.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia telah mengingatkan, ”Ada perang yang lebih besar dari Perang Badar, yakni perang melawan diri sendiri.” Tapi, aku justru sibuk menyulut perang-perang badar berikutnya di luar diriku. Memicu gesekan umat. Aku lalai untuk mawas diri. Aku lupa becermin pada sifat Muhammad SAW yang shiddiq, amanah, fathanah, dan tabligh. Aku merasa paling mengerti Kehendak Allah dan kemauan RasulNya.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia jelas-jelas hadir membawa rahmat, tapi mengapa aku membawa-bawa laknat? “Sungguh telah datang padamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya deritamu, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, terlebih lagi amat belas kasih dan sayang terhadap orang-orang mukmin,” firman Allah dalam Q.S At Taubah: 128. Namun, aku justru mempermalukan Rasulullah.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Tak habis-habis shalawat dikumandangkan, puja-puji dilantunkan, dan riwayat Nabi dibacakan. Di sudut yang tidak kentara oleh pandangan dan tidak terlalu gaduh oleh ingar-bingar perayaan, seseorang bersimpuh dan menunduk. Ia tenggelam dalam airmata. Bibirnya bergetar memuji Sayyidul Wujud, Muhammad SAW, satu-satunya alasan Allah menciptakan hidup dan kehidupan. Aku pun ingin demikian.

Oleh: Chandra Malik

Jadikan Hari Sumpah Pemuda Sebagai Sarana Mempersatukan Bangsa

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Bukankah tentu  kita tidak asing lagi dengan tanggal 28 Oktober? Hari dimana kita biasa melaksanakan upacara bendera pada hari tersebut, Ya tanggal 28 Oktober adalah hari sumpah pemuda, hari penting dimana menjadi salah satu tonggak utama sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Sumpah pemuda adalah hasil keputusan kongres pemuda II pada tanggal 28 oktober  1928 di Batavia (Jakarta) yang berisi :

  1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah air Indonesia.
  2. Kami putra dan putri Indonesi mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung Bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Maka tepat dihari ini para pemuda pemudi indonesia berikrar bertumpah darah satu,berbangsa satu, berbahasa satu Indonesia. Dalam peristiwa sejarah itu pula  pertama kali didendangkan dan diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia  “Indonesia Raya”  yang di ciptakan oleh  W.R. Soepratman.

Jadi, sebagai generasi muda bangsa yang seharusnya punya semangat api dalam diri kita, jangan sampai hanya menjadikan sumpah pemuda itu sejarah belaka. Tapi, isilah hari sumpah pemuda itu dengan bukti nyata dengan semangat nasionalisme, patriotisme, kreativitas, dan loyalitas yang membara. Kita bisa menyatukan bangsa ini salah satunya dengan cara menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi di dalam masyarakat. Dengan beranekaragaman suku dan budaya dengan bahasa daerah yang berbeda pula kita bisa menyatukannya dengan bahasa indonesia sebagai alat instrumen dalam berkomunikasi.

Bung  Karno pernah berkata “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuubah dunia”. Jadi kemana arah bangsa Indonesia ini selanjutnya,  menjadi lebih baik atau tambah buruk kedepannya  adalah hasil kerja pemuda Indonesia sendiri. Jadi, ayo pemuda Indonesia satukan semangatmu! Jadikan hari sumpah pemuda sebagai sarana mempersatukan bangsa, isi dengan hal hal positif yang bermanfaat bagi negara dan bangsa, Kita satu karena kita Indonesia.

Oleh: Febriyanti Rizqi Umaroh/Jurnalis X TKJ 4