Malu Aku Padamu, Duhai Sayyidul Wujud!

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula hati ini malu luar biasa. Perasaan itu terbawa sepanjang tahun hingga tibalah peringatan hari kelahiran Nabi SAW tahun berikutnya. Ia dilahirkan sebagai seorang yatim. Tidak berselang lama sang ibunda pun wafat menyusul ayahandanya. Aku dibesarkan oleh kedua orang tua hingga jelang dewasa, namun kedewasaan masih tak juga singgah di jiwaku yang terus saja kekanak-kanakan ini. Akankah aku menua sia-sia?

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula hati ini malu luar biasa. Meniti masa remaja dengan menjaga neraca keadilan, jujur, berkata benar, dan tidak berkata selain yang benar itu, Sang Nabi SAW bahkan sampai dijuluki Al-Amin oleh umat. Jauh berbeda dengan masa remaja yang kuhabiskan untuk memaknai jati diri sesuka hati. Dengan dalih masa pubertas, aku mulai tidak adil bahkan pada panca inderaku sendiri dan belajar berdusta demi kesenanganku sendiri.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula hati ini malu luar biasa. Suri teladan yang bernama Muhammad ibn Abdullah ini berangkat menuju malam dengan memasuki Gua Hira. Berteman sepi, ia memenuhi dirinya dengan sunyi. Menundukkan kepala, tak lepas dari memuji Tuhannya, berkhalwat, hingga kemudian Allah turunkan baginya wahyu. “Iqra! Bacalah!” demikian Allah berfirman padanya. Betapa malu, jelang dewasa aku bahkan masih buta mata hati.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali pula aku malu luar biasa. Tahun-tahun menuju kedewasaan terlewatkan tanpa arti. Bukan sepi yang kucari, tapi ramai yang semu. Bukan petunjuk Ilahi yang kunanti, tapi brosur-brosur duniawi yang kuburu, kenikmatan kamuflase. Jangankan untuk membaca diri, untuk sekadar mengenali setiap sendi pada diri saja aku belum mampu. Padahal, setiap sendi—bahkan yang lebih rinci dari itu—adalah ayat-ayat kauniyah dari Allah.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiapkali itu pula aku malu luar biasa. Ia, Sang Utusan Allah, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, mengatakan, ”Sesungguhnya setiap manusia, anak keturunan Adam, diciptakan mempunyai 360 persendian.” Dan, dalam hadits lain, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, manusia diwajibkan menyedekahi setiap persendian itu. Tapi, jangankan sedekah, aku justru suka mengambil lebih banyak, bahkan acap mengambil hak orang lain.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia, Sang Nabi Penutup, setia mengetuk pintu satu per satu demi menebarkan salam dan kasih sayang. Rela diludahi, dihina, dan dimusuhi demi membawa Risalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Ia hadir untuk menyempurnakan akhlak mulia. Sedangkan aku? Aku ke mana-mana menggedor kasar, mencari panggung pengakuan, menuntut dimuliakan, dan jumawa ilmu padahal rendah adab.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia, ayahanda Fatimah Az Zahra ini, berani meninggalkan zona kenyamanan. Nyaris tak pernah tidur kecuali sangat sebentar, bersabar menerima setiap keluh kesah dan pertanyaan, bersandar pada Allah untuk setiap jawaban yang disampaikan, dan oleh karena itulah ia selalu menjadi rujukan. Sejak memimpin Kaum Quraisy meletakkan Hajar Aswat ke Ka’bah, ia tak pernah berhenti berperan jadi penengah.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia, yang adalah Nabi, Rasul, Pemimpin Umat, dan Uswatun Hasanah itu, masih terus beristighfar dan bersujud dengan rendah hati. Sampai-sampai, Allah Yang Maha Suci memperjalankannya dalam Isra’ Mi’raj dalam kedudukan Muhammad SAW sebagai hamba. Aku? Berkedudukan, tidak. Berjasa, tidak. Berilmu pun tidak. Tapi, tidak lekas menghamba. Tinggi hati. Tak jua mau mengaku sahaya padaNya.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ke mana perginya usiaku dari tahun ke tahun? Jangankan hijrah dari Makkah ke Madinah, melepaskan diri dari bayang-bayang alas kaki para leluhurku saja aku tak bernyali. Nama mereka yang terus kusebut-sebut untuk melindungi hatiku yang ciut. Seolah-olah membanggakan orangtua dan garis ke atasnya, padahal karena aku tak mampu menjadi penerus, apalagi menjadi lebih baik dari mereka.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia senantiasa terhubung dan tersambung dengan Allah, menerima Kalam Ilahi tak kurang dari enam ribu ayat selama 23 tahun, menyampaikan petuah hingga ketika dihimpun mencapai ribuan hadits, namun tetap menghargai proses. Dengan lembut Muhammad SAW menyampaikan, yang terbata-bata membaca Al-Qur’an niscaya menerima pahala berlipat ganda. Ia terus membesarkan hati umat.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia perhatikan betul apa yang keluar masuk dari mulutnya—ucapan dan santapan. Dalam hal berucap, ia tak berkata dusta, tak berkata kotor, pun tak berkata kasar. Dalam hal bersantap, ia mengatur kuota muatan perut: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk udara. Hanya makan ketika ia lapar, berhenti sebelum merasa kenyang. Tidak mubazir dan tamak sepertiku.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia mengkhawatirkan umatnya. Menjelang akhir hayat, Muhammad SAW berseru, ”Ummati, ummati, ummati.” Kelak di akhir masa, Kanjeng Nabi memberikan syafaat setelah Allah menganugerahinya rahmat. Tapi, lihatlah, aku mengkhawatirkan diriku dan urusanku sendiri, keuntungan dan keberuntunganku sendiri. Bahkan, tujuan bershalawatku pun agar aku yang dipuji.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia bersabda, menuntut ilmu diwajibkan bagi muslim laki-laki dan perempuan, sejak dilahirkan hingga diwafatkan, bukannya belajar justru aku lebih suka menggurui. Bukannya menguatkan iman agar makin kuat keislamanku, semakin tinggi ilmuku justru semakin mudah aku mengkafirkandan mengkafir-kafirkan orang lain. Nabi mengatakan, ”Ilmu adalah cahaya,” tapi aku justru semakin gelap dalam gulita.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia telah mengingatkan, ”Ada perang yang lebih besar dari Perang Badar, yakni perang melawan diri sendiri.” Tapi, aku justru sibuk menyulut perang-perang badar berikutnya di luar diriku. Memicu gesekan umat. Aku lalai untuk mawas diri. Aku lupa becermin pada sifat Muhammad SAW yang shiddiq, amanah, fathanah, dan tabligh. Aku merasa paling mengerti Kehendak Allah dan kemauan RasulNya.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia jelas-jelas hadir membawa rahmat, tapi mengapa aku membawa-bawa laknat? “Sungguh telah datang padamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya deritamu, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, terlebih lagi amat belas kasih dan sayang terhadap orang-orang mukmin,” firman Allah dalam Q.S At Taubah: 128. Namun, aku justru mempermalukan Rasulullah.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Tak habis-habis shalawat dikumandangkan, puja-puji dilantunkan, dan riwayat Nabi dibacakan. Di sudut yang tidak kentara oleh pandangan dan tidak terlalu gaduh oleh ingar-bingar perayaan, seseorang bersimpuh dan menunduk. Ia tenggelam dalam airmata. Bibirnya bergetar memuji Sayyidul Wujud, Muhammad SAW, satu-satunya alasan Allah menciptakan hidup dan kehidupan. Aku pun ingin demikian.

Oleh: Chandra Malik

Jadikan Hari Sumpah Pemuda Sebagai Sarana Mempersatukan Bangsa

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Bukankah tentu  kita tidak asing lagi dengan tanggal 28 Oktober? Hari dimana kita biasa melaksanakan upacara bendera pada hari tersebut, Ya tanggal 28 Oktober adalah hari sumpah pemuda, hari penting dimana menjadi salah satu tonggak utama sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Sumpah pemuda adalah hasil keputusan kongres pemuda II pada tanggal 28 oktober  1928 di Batavia (Jakarta) yang berisi :

  1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah air Indonesia.
  2. Kami putra dan putri Indonesi mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung Bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Maka tepat dihari ini para pemuda pemudi indonesia berikrar bertumpah darah satu,berbangsa satu, berbahasa satu Indonesia. Dalam peristiwa sejarah itu pula  pertama kali didendangkan dan diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia  “Indonesia Raya”  yang di ciptakan oleh  W.R. Soepratman.

Jadi, sebagai generasi muda bangsa yang seharusnya punya semangat api dalam diri kita, jangan sampai hanya menjadikan sumpah pemuda itu sejarah belaka. Tapi, isilah hari sumpah pemuda itu dengan bukti nyata dengan semangat nasionalisme, patriotisme, kreativitas, dan loyalitas yang membara. Kita bisa menyatukan bangsa ini salah satunya dengan cara menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi di dalam masyarakat. Dengan beranekaragaman suku dan budaya dengan bahasa daerah yang berbeda pula kita bisa menyatukannya dengan bahasa indonesia sebagai alat instrumen dalam berkomunikasi.

Bung  Karno pernah berkata “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuubah dunia”. Jadi kemana arah bangsa Indonesia ini selanjutnya,  menjadi lebih baik atau tambah buruk kedepannya  adalah hasil kerja pemuda Indonesia sendiri. Jadi, ayo pemuda Indonesia satukan semangatmu! Jadikan hari sumpah pemuda sebagai sarana mempersatukan bangsa, isi dengan hal hal positif yang bermanfaat bagi negara dan bangsa, Kita satu karena kita Indonesia.

Oleh: Febriyanti Rizqi Umaroh/Jurnalis X TKJ 4

Belajar Nasionalisme Dengan Tidak Melupakan Pancasila

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Usaha para pahlawan Indonesia dalam usaha memerdekakan Indonesia tergolong tidak mudah, peperangan dan perundingan sering dilakukan. Bahkan adu domba antar suku pun kerap terjadi yang mengakibatkan peperangan, tetapi semangat para pejuang kita tidak pernah luntur oleh waktu, suasana, dan tekanan karena hanya untuk mencapai satu kata “merdeka”. Tetapi sekarang pengorbanan mereka seperti tidak ada harganya sama sekali padahal pahlawan kita mengorbankan harta benda bahkan nyawa mereka untuk lepas dari belenggu para penjajah, oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang hanya menuruti nafsu akan kekuasaan, harta benda mereka melupakan jasa para pahlawan kita.

Sebelum Indonesia menjadi negara politikus para pemimpin yang terdahulu membuat dasar negara yang di sebut “pancasila”. Hampir semua orang tahu apa itu pancasila, tetapi hampir semua tidak tahu apa makna pancasila.

Banyak pejabat yang jujur dan tidak sedikit pejabat yang tidak jujur, patut diapresiasi para pejabat yang jujur karena mereka betul-betul memikirkan keadilan untuk rakyat seperti yang tertera pada sila ke-5, tetapi bagai mana pejabat yang tidak jujur? Pastinya membuat banyak kasus yang menguntungkan sepihak seperti korupsi, penggelapan uang negara dan lain-lain, persoalan seperti itu hanya akan merugikan diri seorang pelaku, negara , dan rakyat terutama.

Selain itu pada tahun sebelum tahun 2017 ini banyak kasus perang antar suku atau agama di karenakan masalah sepele, contohnya perang sampit 2001, perang antar suku di Papua, perang antar umat beragama di berbagai daerah yang hanya dikarenakan masalah yang seharusnya bisa di selesaikan dengan kepala dingin. Dari peristiwa tersebut artinya mereka sudah melupakan apa dasar negara Indonesia seperti yang tertera pada sila pertama dan ketiga yaitu tentang Ketuhanan Yang Maha Esa dan persatuan Indonesia.

Apakah contoh-contoh dari perbuatan tersebut sudah mencerminkan bahwa kita warga negara Indonesia sudah mengamalkan pancasila dan menghormati jasa para pahlawan kita yang memperjuangkan negara Indonesia untuk memiliki hak yang sama dengan negara-negara lain yang sudah jauh didepan mendahului kita?

Oleh sebab itu, usaha untuk mengingat jasa para pahlawan kita salah satunya dengan cara mengamalkan pancasila, mengamalkan pancasila itu ringan bukan seberat untuk pergi berperang, salah satunya kita mengikuti gotong royong membersihkan desa, bertoleransi terhadap agama lain, bermusyawarah dengan sesama, dan lain sebagainya.

Maka dari pengamalan pancasila itu kita dapat menjadi pribadi yang diharapkan oleh pendahulu kita yang berdasarkan pancasila. Membuat sebuah kalimat itu mudah tetapi mengamalkan kalimat yang dibuat itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab mulutmu harimaumu dan setiap perkataan yang terucap tidak bisa ditarik lagi.

Oleh: Syarif Hidayatullah/XI TKJ 4

Menelaah Nasionalisme Diri Kita Kepada Bangsa Sendiri

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Rakyat Indonesia menelan air mata darah dan mengalami penindasan oleh kolonialisme Belanda, Jepang, dan kawan-kawan pada masa lalu. Penderitaan, penindasan, kekerasan, pelecehan membuat rakyat menderita, sehingga muncul rasa persamaan nasib yang mempersatukan rakyat. Sejak kesadaran tentang persatuan inilah mulai terasa pemberontakan-pemberontakan atau perjuangan-perjuangan yang berarti dan terkoordinisir. Pemberontakan-pemberontakan macam ini merupakan cerminan Nasionalisme yang dimiliki rakyat masa itu.

Menurut J.E Renan Nasionalisme disebut sebagai sebuah rasa persamaan suatu kelompok atau bangsa yang berada dalam kondis ipenderitaan atau kesengsaraan maka timbulah rasa Nasionalisme tersebut. Pemberontakan atau perjuangan bangsa Indonesia bertujuan untuk mengusir penjajah dan mengganti susunan politik dan ekonomi pemerintah yang dipegangoleh para penjajah agar kembali kedalam genggaman bangsa Indonesia. Sehingga bisa diasumsikan Indonesia melakukan Radikalisme terhadap Kolonialisme.

Adeed Dawisha dalam bukunya The Arab Radicals (1968) mengartikan Radikal sebagai sikap jiwa yang membawa kepada tindakan-tindakan yang bertujuan melemahkan dan mengubah tatanan politik dan menggantinya dengan sistem yang baru.

Semua perjuangan, pemberontakan, Radikalisme itu yang membawa kemerdekaan, jadi apa mungkin Radikalisme yang mungkin “seram” dimata kita ternyata salah satu faktor penting dalam kemerdekaan?

Bagaiamana dengan “Amnesia Nasionalisme” Apakah merupakan hasil dari tindakan Radikaliame?

Nasionalisme dilihat dengan mata terbuka

Jika dilihat dari tatanan bahasa Nasionalisme terdiri dari Nasional dan isme, Saya yakin pasti kata “Nasional” sudah biasa terdengar di telinga kita.

Isme, adalah akhiran yang menandakan suatu paham atau ajaran atau kepercayaan (Wikipedia). Nasionalisme adalah suatu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah Negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia yang mempunyai tujuan atau cita-cita yang sama dalam mewujudkan kepentingan Nasional, dan Nasionalisme juga rasa ingin mempertahankan negaranya, baik dari dalam maupun luar (Wikipedia). Arti dari satu konsep identitas bersama adalah identitas Nasional. Indentitas Nasional Indonesia adalah ciri-ciri atau sifat-sifat khas Bangsa Indonesia yang membedakannya dengan Bangsa lain (www.youvitavhey.com). Tujuan atau cita-cita Nasional Indonesia tertuang pada pembukaan UUD 1945 alinea ke 4 yang berbunyi “……untuk melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan Bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial…..” dan pada alinea dua “……Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur……”.

Tapi jika ditelusuri lebih kebenarannya pada masa-masa sekarang Nasionalisme hanyalah kesadaran ketidak mampuan melakukan sesuatu sehingga membutuhkan orang lain untuk mendapatkan hasil atau perubahan yang di inginkan serta untuk memenuhi kebutuhan sosial. Secara simple Nasionalisme zaman sekarang hanya orang-orang yang bersifat individualistic bekerjasama. Mirip seperti masa perjuangan Indonesia masih bersifat kedaerahan. Kebanyakan, daerah-daerah hanya ingin selamat, bahkan jika ada pilihan, beberapa daerah pada masa itu akan memilih mengorbankan daerah lain agar daerah sendiri tetap aman. Tetapi lambat laun perjuangan kemerdekaan itu bersatu menjadi Nasionalisme sehingga akhirnya berhasil merdeka. Seperti roda terkadang diatas terkadang dibawah.

Pada zaman sekaranglah penerapan dan pemahaman Nasionalisme berada dibawah, tercermin dari banyaknya masyarakat yang lebih mementingkan apakata orang lain dari pada keadaan diri sendiri. Masyarakat yang mengukur kesuksesan dari penghasilan perbulan seseorang. Anggapan ini mendorong seseorang untuk melakukan kecurangan agar dapat untung yang sebanyak-banyaknya, seperti korupsi. Bahakan berdasarkan Corruption Perceptions index 2016, Indonesia beradapada posisi 90 dari total 176 negara dengan score 37 kita dikalahkan India yang mendapat peringkat 79 dengan score 40, dan Malaysia berada di peringkat 55 dengan score 49. Sedangkan berdasarkan Pusat Data Statistik (BPS) pada tahun2017  Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) Indonesia sebesar 3,71 pada skala 0 sampai 5. Angka ini lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2015 sebesar 3,59. Nilai indeks semakin mendekati 5 menunjukkan bahwa masyarakat berperilaku semakin anti korupsi, sebaliknya nilai IPAK yang semakin mendekati 0 menunjukan bahwa masyarakat berperilaku semakin permisif terhadap korupsi. IPAK masyarakat perkotaan lebih tinggi (3,86) dibanding masyarakat perdesaan (3,53). Semakin tinggi pendidikan, semakin anti korupsi. IPAK penduduk berpendidikan SLTP kebawah sebesar 3,58, SLTA sebesar 3,99, dan di atas SLTA sebesar 4,09. Indeks-indeks inilah yang mencerminkan kemajuan suatu Negara karena korupsi merupakan faktor yang sangat berpengaruh. Bukan berarti tulisan tersebut mencerminkan jiwa Bangsa Indonesia.

Dibanyak Negara, orang kehilangan sebagain kebutuhan dasarnya dan tidur kelaparan setiap malam karena korupsi, sementara yang berkuasa dan korup menikmati gaya hidup mewah tanpa hukuman  (Jose Ugaz, Chair of Transparency International).

Nasionalisme Pada Generasi Muda

Saya, kamu, dia, kita semua para generasi muda, semua materi atau pelajaran yang diberikanoleh guru bagi sebagian besar dari kita hanya berguna saat ujian atau tidak kita anggap berguna sama sekali. Pengaruh globalisasi menekan kita untuk selalu uptodate  ‘’ckrek sana, cekrek sini, upload sana, upload sini, like, coment, bagikan‘’ semua itu bagaikan ganja yang menyebabkan candu. Bahakan menurut data Global Sosial Media Research Summary 2017 dari www.smartinsights.com Indonesia selalu masuk ke dalam 10 besar dalam popularitas media social menurut Negara, media social yang kita maksud di sini adalah facebook, youtube, twiter, google plus. ‘’ Prestasi-prestasi’’  semacam inilah yang perlu kita pikirkan apakah ini sebuah kebangaan, bukti kemampuan, cemooh, atau keterpurukan, bisa jadi ini tanda Indonesia selalu uptodate, atau ini tanda sosmed telah memakan jiwa bangsa?.

Pernyataan tentang tingginya penggunaan sosmed tersebut menunjukan Indonesia sudah mengikuti kencangnya arus globalisasi. Seperti yang sudah tertulis dibanyak artikel lainnya, globalisasi membawa dampak positif dan negative. Salah satu dampak positive globalisasi adalah perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, dll. Sedangkan dampak besar negativenya adalah tergesernya nasionalisme, pancasila, hilangnya rasa gotong royong, dan sebenarnya masih banyak lagi tapi kita akan focus pada hilangnya warisan Negara. Sebagiaan rakyat Indonesia bahkan tidak tau atau menyadari warisan yang kita bahas. Para generasi muda lebih mengenal ‘’ Boy ‘’ atau sinetron lainnya yang sedang bumming ya….. ceritanya yaitu itu lagi cinta cintaan lagi. Kita sebagai generasi muda diharapkan mampun melestarikan budaya, mempertahankan idiologi, mengamalkan Nasionalisme, serta berpegang teguh pada dasar Negara. Tapi pada kenyataanya kita tidak bisa karena pengajaran-pengajaran tentang semua itu umumnya hanya berada di sekolah. Sedangkan kebalikan ajaran-ajaran tersebut sering bahkan dianggap biasa terjadi di masyarakat. Para orang dewasa yang seharusnya member contoh kebanyakan malah member pengaruh buruk. Itulah yang umumnya terjadi di Indonesia “guru” yang seharusnya member pengaruh baik malah membutuhkan pengajaran tentang kebaikan.

Memudarnya  Nasionalisme, Membangkitkan Radikalisme

Seperti yang sudah dibahas di atas tadi, dinamikan penurunan rasa Nasionalisme menyebabkan mudah berkembangnya paham Radikalisme yang bertentangan dengan Pancasila sebagai Dasar Negara. Sebelum Indonesia merdeka, paham Radikalisme bersifat positive karena menentang Kolonialisme dan ingin merebut kekuasaannya atas Tanah Air supaya kembai ketangan Indonesia. Tapi pada zaman sekarang Radikalisme besifat negative karena bersfat ingin merubah Dasar Negara yang dianggap sebagai pedoman yang paling benar. Faktor penting mudah berkembangnya Radikalisme yang bertentangan dengan dasar Negara adalah karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang Dasar Negaranya sendiri, jadi sebelum masyarakat mengenal yang benar masyarakat terlebih dahulu sudah dicekoki yang salah, sehigga persepsi kita tentang yang salah menjadi benar dan yang benar menjadi salah. Bisa diumpamakan sebuah cangkir yang seharusnya diisi susu, tapi sebelum diisi susu sudah diisi kopi. Ditambah dengan semangat-semangat “Jas Merah” (jangan sekali-kali melupakan sejarah) yang sudah tidak digembleng lagi. Tidak konsistensi dan ketidaktepatan tanpa ada kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah menyebabkan masyarakat kecewa terutama pada orang-orang dewasa sehingga rakyat ingin melupakan Negara. Orang-orang dewasa itu menurunkan kelupaannya pada generasi muda. Generasi muda yang diberikan ketidak pedulian tentang Negara ditambah dengan dampak negative Globalisasi menyebabkan banyak terjadi kesalahpahaman tentang Negara. Siapa tau lama kelamaan radikalisme itu menjadi “kebenaran”? Tapi yang pasti kita harus berheti menunggu dan melakukan tindakan. Kita sebagai Bangsa Indonesia seharusnya mulai mengenal Negara sendiri tidak harus selalu menunggu disosialisasikan.

“Jangan tanya apa yang Negara mulakukan untukmu tapi Tanya apa yang kamu lakukan untuk Negaramu” (John F. Kennedy).

Oleh: Gumelar Harta Mulyana/X TKJ 4

Amanat Menjaga Nasionalisme

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Benedict Anderson membuat catatan menarik dalam karyanya Imagined Communities: “Itulah contoh watak nasionalisme resmi yang jelas—strategi antisipatif yang diadopsi oleh kelompok-kelompok dominan yang merasa terancam oleh pinggiran (marginalisasi) atau pengucilan (ekslusi) dari komunitas kebangsaan imajiner yang baru”.

Catatan ini menjadi sindiran, bahwa setiap bangsa memastikan dirinya memiliki kelas sosial. Dari kelas sosial inilah lahir kesenjangan-kesenjangan yang mampu melahirkan konflik. Maka model gerakan nasionalisme itu menjadikan tali perekat dari problem kesenjangan dimaksud. Nasionalisme ingin mencoba merapatkan keberbedaan yang ada. Dimana hakikat dari nasionalisme berusaha mempersatukan perbedaan.

Untuk menyatukannya tentu membutuhkan ikatan kuat. Dalam bahasa janji penduduk Indonesia diikrarkanlah komitmen: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa: Indonesia. Semua penduduk Indonesia merasakan bersama-sama lelah dan pedih saat dijajah. Sama-sama merasakan bahagia di saat merdeka. Dan kini, kemerdekaan yang telah berusia tujuh puluh tahun dinikmati secara bersama-sama.

Yang patut dikhawatirkan hari ini adalah penduduk Indonesia. Kenapa? Masihkah ratusan juta penduduknya memiliki nasionalisme? Sebuah pertanyaan yang patut untuk dijawab bersama. Ada anggapan bahwa nasionalisme penduduk Indonesia mulai luntur. Kok bisa? Bisa, karena semakin banyak muncul teroris dan menjamurnya aliran radikal. Sebab terorisme dan radikalisme lahir karena hilangnya nasionalisme.

Namun tidak perlu ragu. Di sisi lain, masih banyak penduduk Indonesia yang masih kuat memegang janji nasionalismenya. Oleh sebab itu, musuh bangsa yang berasal dari dalam negeri perlu disadarkan kembali. Ruh nasionalisme perlu kembali dibangkitkan. Rasa cinta bangsa juga perlu digugah. Sehingga semangat memiliki Indonesia dan menjadikannya maju selalu berkobar.

Menjaga Diri

Hilangnya nasionalisme karena jiwa kebangsaan mengalami gangguan. Maka gangguan-ganguan itu perlu disadarkan. Disinilah butuh kesadaran berkebangsaan. Ada pesan indah dari Syaikh Mushtofa Alghulayaini dalam kitab Idzatun Nasyi’in: “Rasa kebangsaan yang sejati adalah suka untuk memperbaiki negara, berusaha untuk melayaninya. Orang yang paling besar rasa kebangsaannya adalah orang yang bersedia mati untuk mensejahterakan negaranya dan bersedia sakit untuk menyehatkan umatnya”.

Sungguh luar biasa. Itulah yang dimaksud dengan jatidiri bangsa yang sejati. Lalu bagaimana membangun nasionalisme di masa sekarang? Yang jelas, Indonesia memiliki Pancasila. Itulah yang perlu dijaga dan dilestarikan. Bahwa Pancasila selalu menjadi ruh kehidupan berbangsa yang terpatri secara mendalam. Tentunya Pancasila yang memiliki keberpihakan kepada semua warga. Bukan Pancasila yang diterjemahkan untuk kepentingan koorporasi.

Jika ditarik dari pesan Syaikh Mushtofa di atas, maka ada pesan 4M yang perlu dijalankan dalam mempertegas nasionalisme: memperbaiki, melayani, mensejahterakan dan menyehatkan. Bahwa bangsa Indonesia yang besar ini tidak mungkin bisa dipersatukan jika pemerintah tidak tuntas menggarap 4M ini. Berikut pula, pemerintah tidak mungkin berjalan sendiri bersama aparatnya, namun haru melibatkan masyarakat.

Maka pada titik inilah sinergi pemerintah dan rakyat menjadi sangat penting. Tiga pokok dalam unsur negara harus selalu diperhatikan: penduduk (rakyat), wilayah dan pemerintah. Di sisi lain rakyat memiliki kewenangan, namun negara dalam konteks normatif juga memerankan tiga sifat: memaksa, monopoli dan mencakup semua (all encompassing, all embracing). Oleh karenanya, rakyat perlu berperan aktif mejaga komunikasi baik. Dan pemerintah tidak seenaknya sendiri dalam menjalankan fungsi 4M.

Kegagalan mempertahankan nasionalisme di negeri ini dipengaruhi kuat oleh deideologisasi Pancasila dan radikalisme agama. Dua hal ini yang menjadikan suasana persatuan dan kesatuan bangsa mengalami gesekan. Dibutuhkan solusi jitu dalam mencairkan suasana harmoni keindonesiaan yang akhir-akhir ini mengalami titik sumbatan kronis.

Deideologisasi Pancasila sengaja dilakukan oleh oknum warga yang tidak sepakat dengan prinsip hidup bernegara secara heterogen. Padahal ini menjadi ancaman serius. Ketika Indonesia sudah tidak lagi yakin dengan hidup berpancasila, ini sama dengan ingin Indonesia pecah. Maka gerakan semacam ini perlu segara diantisipasi.

Adanya kelompok yang tidak mau menghormat bendera dan tidak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya sudah nyata di depan mata. Sudah saatnya pemerintah hadir untuk melakukan pembinaan. Dengan siapa? Pemerintah tidak bisa sendirian menghadapinya. Haru bersama-sama dengan warga negara yang memiliki komitmen kuat terhadap hidup berbangsa dengan Pancasila.

Masalah radikalisme agama juga menjadi tantangan serius bagi Indonesia. Selama pemahaman agama dijadikan pilihan untuk menyalahkan agama lain, maka disitu awal dari konflik. Dan konflik agama dalam hidup berindonesia selalu berbuntut panjang. Maka komitmen untuk menjadi kerukunan agama, turut serta mempengaruhi nalar kebangsaan kita semua.

Atas dasar meneguhkan jati diri bangsa Indonesia yang memegang teguh Undang-undang Dasar 1945 dan Pancasila, maka agama dijadikan pemersatu bangsa. Caranya? Mengajak pada semua tokoh-tokoh agama untuk mengajarkan agama yang damai dan penuh cinta kasih. Negara bersama dengan warga negara melakukan giat aktif penyebaran penanaman cinta agama dan cinta bangsa.

Dengan model cinta agama dan cinta bangsa ini, bangunan nasionalisme akan berjalan secara baik. Usaha semacam ini juga tidak akan sukses tergarap dengan baik tanpa adanya kerjasama yang kuat. Sebab bangsa Indonesia dengan potensi perbedaan yang sangat besar ini butuh kerjasama yang kuat. Kemungkinan-kemungkinan adanya kesepakatan jahat merusak kesatuan Indonesia perlu dihadapi secara tegas dan penuh kearifan.

Yang jelas bahwa menjaga nasionalisme adalah amanat. Amanat yang tidak sepele, tetap amanat mulia yang sangat berat. Maka semuanya harus bersatu padu: negeri sudah tua, maka harus dijaga dengan penuh cinta kasih.

Rikza Chamami

Dosen UIN Walisongo dan Peneliti Aliansi Kebangsaan