Menelaah Nasionalisme Diri Kita Kepada Bangsa Sendiri

Posted on Posted in Artikel

Rakyat Indonesia menelan air mata darah dan mengalami penindasan oleh kolonialisme Belanda, Jepang, dan kawan-kawan pada masa lalu. Penderitaan, penindasan, kekerasan, pelecehan membuat rakyat menderita, sehingga muncul rasa persamaan nasib yang mempersatukan rakyat. Sejak kesadaran tentang persatuan inilah mulai terasa pemberontakan-pemberontakan atau perjuangan-perjuangan yang berarti dan terkoordinisir. Pemberontakan-pemberontakan macam ini merupakan cerminan Nasionalisme yang dimiliki rakyat masa itu.

Menurut J.E Renan Nasionalisme disebut sebagai sebuah rasa persamaan suatu kelompok atau bangsa yang berada dalam kondis ipenderitaan atau kesengsaraan maka timbulah rasa Nasionalisme tersebut. Pemberontakan atau perjuangan bangsa Indonesia bertujuan untuk mengusir penjajah dan mengganti susunan politik dan ekonomi pemerintah yang dipegangoleh para penjajah agar kembali kedalam genggaman bangsa Indonesia. Sehingga bisa diasumsikan Indonesia melakukan Radikalisme terhadap Kolonialisme.

Adeed Dawisha dalam bukunya The Arab Radicals (1968) mengartikan Radikal sebagai sikap jiwa yang membawa kepada tindakan-tindakan yang bertujuan melemahkan dan mengubah tatanan politik dan menggantinya dengan sistem yang baru.

Semua perjuangan, pemberontakan, Radikalisme itu yang membawa kemerdekaan, jadi apa mungkin Radikalisme yang mungkin “seram” dimata kita ternyata salah satu faktor penting dalam kemerdekaan?

Bagaiamana dengan “Amnesia Nasionalisme” Apakah merupakan hasil dari tindakan Radikaliame?

Nasionalisme dilihat dengan mata terbuka

Jika dilihat dari tatanan bahasa Nasionalisme terdiri dari Nasional dan isme, Saya yakin pasti kata “Nasional” sudah biasa terdengar di telinga kita.

Isme, adalah akhiran yang menandakan suatu paham atau ajaran atau kepercayaan (Wikipedia). Nasionalisme adalah suatu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah Negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia yang mempunyai tujuan atau cita-cita yang sama dalam mewujudkan kepentingan Nasional, dan Nasionalisme juga rasa ingin mempertahankan negaranya, baik dari dalam maupun luar (Wikipedia). Arti dari satu konsep identitas bersama adalah identitas Nasional. Indentitas Nasional Indonesia adalah ciri-ciri atau sifat-sifat khas Bangsa Indonesia yang membedakannya dengan Bangsa lain (www.youvitavhey.com). Tujuan atau cita-cita Nasional Indonesia tertuang pada pembukaan UUD 1945 alinea ke 4 yang berbunyi “……untuk melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan Bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial…..” dan pada alinea dua “……Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur……”.

Tapi jika ditelusuri lebih kebenarannya pada masa-masa sekarang Nasionalisme hanyalah kesadaran ketidak mampuan melakukan sesuatu sehingga membutuhkan orang lain untuk mendapatkan hasil atau perubahan yang di inginkan serta untuk memenuhi kebutuhan sosial. Secara simple Nasionalisme zaman sekarang hanya orang-orang yang bersifat individualistic bekerjasama. Mirip seperti masa perjuangan Indonesia masih bersifat kedaerahan. Kebanyakan, daerah-daerah hanya ingin selamat, bahkan jika ada pilihan, beberapa daerah pada masa itu akan memilih mengorbankan daerah lain agar daerah sendiri tetap aman. Tetapi lambat laun perjuangan kemerdekaan itu bersatu menjadi Nasionalisme sehingga akhirnya berhasil merdeka. Seperti roda terkadang diatas terkadang dibawah.

Pada zaman sekaranglah penerapan dan pemahaman Nasionalisme berada dibawah, tercermin dari banyaknya masyarakat yang lebih mementingkan apakata orang lain dari pada keadaan diri sendiri. Masyarakat yang mengukur kesuksesan dari penghasilan perbulan seseorang. Anggapan ini mendorong seseorang untuk melakukan kecurangan agar dapat untung yang sebanyak-banyaknya, seperti korupsi. Bahakan berdasarkan Corruption Perceptions index 2016, Indonesia beradapada posisi 90 dari total 176 negara dengan score 37 kita dikalahkan India yang mendapat peringkat 79 dengan score 40, dan Malaysia berada di peringkat 55 dengan score 49. Sedangkan berdasarkan Pusat Data Statistik (BPS) pada tahun2017  Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) Indonesia sebesar 3,71 pada skala 0 sampai 5. Angka ini lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2015 sebesar 3,59. Nilai indeks semakin mendekati 5 menunjukkan bahwa masyarakat berperilaku semakin anti korupsi, sebaliknya nilai IPAK yang semakin mendekati 0 menunjukan bahwa masyarakat berperilaku semakin permisif terhadap korupsi. IPAK masyarakat perkotaan lebih tinggi (3,86) dibanding masyarakat perdesaan (3,53). Semakin tinggi pendidikan, semakin anti korupsi. IPAK penduduk berpendidikan SLTP kebawah sebesar 3,58, SLTA sebesar 3,99, dan di atas SLTA sebesar 4,09. Indeks-indeks inilah yang mencerminkan kemajuan suatu Negara karena korupsi merupakan faktor yang sangat berpengaruh. Bukan berarti tulisan tersebut mencerminkan jiwa Bangsa Indonesia.

Dibanyak Negara, orang kehilangan sebagain kebutuhan dasarnya dan tidur kelaparan setiap malam karena korupsi, sementara yang berkuasa dan korup menikmati gaya hidup mewah tanpa hukuman  (Jose Ugaz, Chair of Transparency International).

Nasionalisme Pada Generasi Muda

Saya, kamu, dia, kita semua para generasi muda, semua materi atau pelajaran yang diberikanoleh guru bagi sebagian besar dari kita hanya berguna saat ujian atau tidak kita anggap berguna sama sekali. Pengaruh globalisasi menekan kita untuk selalu uptodate  ‘’ckrek sana, cekrek sini, upload sana, upload sini, like, coment, bagikan‘’ semua itu bagaikan ganja yang menyebabkan candu. Bahakan menurut data Global Sosial Media Research Summary 2017 dari www.smartinsights.com Indonesia selalu masuk ke dalam 10 besar dalam popularitas media social menurut Negara, media social yang kita maksud di sini adalah facebook, youtube, twiter, google plus. ‘’ Prestasi-prestasi’’  semacam inilah yang perlu kita pikirkan apakah ini sebuah kebangaan, bukti kemampuan, cemooh, atau keterpurukan, bisa jadi ini tanda Indonesia selalu uptodate, atau ini tanda sosmed telah memakan jiwa bangsa?.

Pernyataan tentang tingginya penggunaan sosmed tersebut menunjukan Indonesia sudah mengikuti kencangnya arus globalisasi. Seperti yang sudah tertulis dibanyak artikel lainnya, globalisasi membawa dampak positif dan negative. Salah satu dampak positive globalisasi adalah perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, dll. Sedangkan dampak besar negativenya adalah tergesernya nasionalisme, pancasila, hilangnya rasa gotong royong, dan sebenarnya masih banyak lagi tapi kita akan focus pada hilangnya warisan Negara. Sebagiaan rakyat Indonesia bahkan tidak tau atau menyadari warisan yang kita bahas. Para generasi muda lebih mengenal ‘’ Boy ‘’ atau sinetron lainnya yang sedang bumming ya….. ceritanya yaitu itu lagi cinta cintaan lagi. Kita sebagai generasi muda diharapkan mampun melestarikan budaya, mempertahankan idiologi, mengamalkan Nasionalisme, serta berpegang teguh pada dasar Negara. Tapi pada kenyataanya kita tidak bisa karena pengajaran-pengajaran tentang semua itu umumnya hanya berada di sekolah. Sedangkan kebalikan ajaran-ajaran tersebut sering bahkan dianggap biasa terjadi di masyarakat. Para orang dewasa yang seharusnya member contoh kebanyakan malah member pengaruh buruk. Itulah yang umumnya terjadi di Indonesia “guru” yang seharusnya member pengaruh baik malah membutuhkan pengajaran tentang kebaikan.

Memudarnya  Nasionalisme, Membangkitkan Radikalisme

Seperti yang sudah dibahas di atas tadi, dinamikan penurunan rasa Nasionalisme menyebabkan mudah berkembangnya paham Radikalisme yang bertentangan dengan Pancasila sebagai Dasar Negara. Sebelum Indonesia merdeka, paham Radikalisme bersifat positive karena menentang Kolonialisme dan ingin merebut kekuasaannya atas Tanah Air supaya kembai ketangan Indonesia. Tapi pada zaman sekarang Radikalisme besifat negative karena bersfat ingin merubah Dasar Negara yang dianggap sebagai pedoman yang paling benar. Faktor penting mudah berkembangnya Radikalisme yang bertentangan dengan dasar Negara adalah karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang Dasar Negaranya sendiri, jadi sebelum masyarakat mengenal yang benar masyarakat terlebih dahulu sudah dicekoki yang salah, sehigga persepsi kita tentang yang salah menjadi benar dan yang benar menjadi salah. Bisa diumpamakan sebuah cangkir yang seharusnya diisi susu, tapi sebelum diisi susu sudah diisi kopi. Ditambah dengan semangat-semangat “Jas Merah” (jangan sekali-kali melupakan sejarah) yang sudah tidak digembleng lagi. Tidak konsistensi dan ketidaktepatan tanpa ada kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah menyebabkan masyarakat kecewa terutama pada orang-orang dewasa sehingga rakyat ingin melupakan Negara. Orang-orang dewasa itu menurunkan kelupaannya pada generasi muda. Generasi muda yang diberikan ketidak pedulian tentang Negara ditambah dengan dampak negative Globalisasi menyebabkan banyak terjadi kesalahpahaman tentang Negara. Siapa tau lama kelamaan radikalisme itu menjadi “kebenaran”? Tapi yang pasti kita harus berheti menunggu dan melakukan tindakan. Kita sebagai Bangsa Indonesia seharusnya mulai mengenal Negara sendiri tidak harus selalu menunggu disosialisasikan.

“Jangan tanya apa yang Negara mulakukan untukmu tapi Tanya apa yang kamu lakukan untuk Negaramu” (John F. Kennedy).

Oleh: Gumelar Harta Mulyana/X TKJ 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *