Artikel

Malu Aku Padamu, Duhai Sayyidul Wujud!

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula hati ini malu luar biasa. Perasaan itu terbawa sepanjang tahun hingga tibalah peringatan hari kelahiran Nabi SAW tahun berikutnya. Ia dilahirkan sebagai seorang yatim. Tidak berselang lama sang ibunda pun wafat menyusul ayahandanya. Aku dibesarkan oleh kedua orang tua hingga jelang dewasa, namun kedewasaan masih tak juga singgah di jiwaku yang terus saja kekanak-kanakan ini. Akankah aku menua sia-sia?

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula hati ini malu luar biasa. Meniti masa remaja dengan menjaga neraca keadilan, jujur, berkata benar, dan tidak berkata selain yang benar itu, Sang Nabi SAW bahkan sampai dijuluki Al-Amin oleh umat. Jauh berbeda dengan masa remaja yang kuhabiskan untuk memaknai jati diri sesuka hati. Dengan dalih masa pubertas, aku mulai tidak adil bahkan pada panca inderaku sendiri dan belajar berdusta demi kesenanganku sendiri.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula hati ini malu luar biasa. Suri teladan yang bernama Muhammad ibn Abdullah ini berangkat menuju malam dengan memasuki Gua Hira. Berteman sepi, ia memenuhi dirinya dengan sunyi. Menundukkan kepala, tak lepas dari memuji Tuhannya, berkhalwat, hingga kemudian Allah turunkan baginya wahyu. “Iqra! Bacalah!” demikian Allah berfirman padanya. Betapa malu, jelang dewasa aku bahkan masih buta mata hati.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali pula aku malu luar biasa. Tahun-tahun menuju kedewasaan terlewatkan tanpa arti. Bukan sepi yang kucari, tapi ramai yang semu. Bukan petunjuk Ilahi yang kunanti, tapi brosur-brosur duniawi yang kuburu, kenikmatan kamuflase. Jangankan untuk membaca diri, untuk sekadar mengenali setiap sendi pada diri saja aku belum mampu. Padahal, setiap sendi—bahkan yang lebih rinci dari itu—adalah ayat-ayat kauniyah dari Allah.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiapkali itu pula aku malu luar biasa. Ia, Sang Utusan Allah, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, mengatakan, ”Sesungguhnya setiap manusia, anak keturunan Adam, diciptakan mempunyai 360 persendian.” Dan, dalam hadits lain, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, manusia diwajibkan menyedekahi setiap persendian itu. Tapi, jangankan sedekah, aku justru suka mengambil lebih banyak, bahkan acap mengambil hak orang lain.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia, Sang Nabi Penutup, setia mengetuk pintu satu per satu demi menebarkan salam dan kasih sayang. Rela diludahi, dihina, dan dimusuhi demi membawa Risalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Ia hadir untuk menyempurnakan akhlak mulia. Sedangkan aku? Aku ke mana-mana menggedor kasar, mencari panggung pengakuan, menuntut dimuliakan, dan jumawa ilmu padahal rendah adab.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia, ayahanda Fatimah Az Zahra ini, berani meninggalkan zona kenyamanan. Nyaris tak pernah tidur kecuali sangat sebentar, bersabar menerima setiap keluh kesah dan pertanyaan, bersandar pada Allah untuk setiap jawaban yang disampaikan, dan oleh karena itulah ia selalu menjadi rujukan. Sejak memimpin Kaum Quraisy meletakkan Hajar Aswat ke Ka’bah, ia tak pernah berhenti berperan jadi penengah.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia, yang adalah Nabi, Rasul, Pemimpin Umat, dan Uswatun Hasanah itu, masih terus beristighfar dan bersujud dengan rendah hati. Sampai-sampai, Allah Yang Maha Suci memperjalankannya dalam Isra’ Mi’raj dalam kedudukan Muhammad SAW sebagai hamba. Aku? Berkedudukan, tidak. Berjasa, tidak. Berilmu pun tidak. Tapi, tidak lekas menghamba. Tinggi hati. Tak jua mau mengaku sahaya padaNya.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ke mana perginya usiaku dari tahun ke tahun? Jangankan hijrah dari Makkah ke Madinah, melepaskan diri dari bayang-bayang alas kaki para leluhurku saja aku tak bernyali. Nama mereka yang terus kusebut-sebut untuk melindungi hatiku yang ciut. Seolah-olah membanggakan orangtua dan garis ke atasnya, padahal karena aku tak mampu menjadi penerus, apalagi menjadi lebih baik dari mereka.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia senantiasa terhubung dan tersambung dengan Allah, menerima Kalam Ilahi tak kurang dari enam ribu ayat selama 23 tahun, menyampaikan petuah hingga ketika dihimpun mencapai ribuan hadits, namun tetap menghargai proses. Dengan lembut Muhammad SAW menyampaikan, yang terbata-bata membaca Al-Qur’an niscaya menerima pahala berlipat ganda. Ia terus membesarkan hati umat.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia perhatikan betul apa yang keluar masuk dari mulutnya—ucapan dan santapan. Dalam hal berucap, ia tak berkata dusta, tak berkata kotor, pun tak berkata kasar. Dalam hal bersantap, ia mengatur kuota muatan perut: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk udara. Hanya makan ketika ia lapar, berhenti sebelum merasa kenyang. Tidak mubazir dan tamak sepertiku.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia mengkhawatirkan umatnya. Menjelang akhir hayat, Muhammad SAW berseru, ”Ummati, ummati, ummati.” Kelak di akhir masa, Kanjeng Nabi memberikan syafaat setelah Allah menganugerahinya rahmat. Tapi, lihatlah, aku mengkhawatirkan diriku dan urusanku sendiri, keuntungan dan keberuntunganku sendiri. Bahkan, tujuan bershalawatku pun agar aku yang dipuji.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia bersabda, menuntut ilmu diwajibkan bagi muslim laki-laki dan perempuan, sejak dilahirkan hingga diwafatkan, bukannya belajar justru aku lebih suka menggurui. Bukannya menguatkan iman agar makin kuat keislamanku, semakin tinggi ilmuku justru semakin mudah aku mengkafirkandan mengkafir-kafirkan orang lain. Nabi mengatakan, ”Ilmu adalah cahaya,” tapi aku justru semakin gelap dalam gulita.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia telah mengingatkan, ”Ada perang yang lebih besar dari Perang Badar, yakni perang melawan diri sendiri.” Tapi, aku justru sibuk menyulut perang-perang badar berikutnya di luar diriku. Memicu gesekan umat. Aku lalai untuk mawas diri. Aku lupa becermin pada sifat Muhammad SAW yang shiddiq, amanah, fathanah, dan tabligh. Aku merasa paling mengerti Kehendak Allah dan kemauan RasulNya.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Ia jelas-jelas hadir membawa rahmat, tapi mengapa aku membawa-bawa laknat? “Sungguh telah datang padamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya deritamu, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, terlebih lagi amat belas kasih dan sayang terhadap orang-orang mukmin,” firman Allah dalam Q.S At Taubah: 128. Namun, aku justru mempermalukan Rasulullah.

Setiap kali peringatan Maulid Nabi tiba, setiap kali itu pula aku malu luar biasa. Tak habis-habis shalawat dikumandangkan, puja-puji dilantunkan, dan riwayat Nabi dibacakan. Di sudut yang tidak kentara oleh pandangan dan tidak terlalu gaduh oleh ingar-bingar perayaan, seseorang bersimpuh dan menunduk. Ia tenggelam dalam airmata. Bibirnya bergetar memuji Sayyidul Wujud, Muhammad SAW, satu-satunya alasan Allah menciptakan hidup dan kehidupan. Aku pun ingin demikian.

Oleh: Chandra Malik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *