Belajar Nasionalisme Dengan Tidak Melupakan Pancasila

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Usaha para pahlawan Indonesia dalam usaha memerdekakan Indonesia tergolong tidak mudah, peperangan dan perundingan sering dilakukan. Bahkan adu domba antar suku pun kerap terjadi yang mengakibatkan peperangan, tetapi semangat para pejuang kita tidak pernah luntur oleh waktu, suasana, dan tekanan karena hanya untuk mencapai satu kata “merdeka”. Tetapi sekarang pengorbanan mereka seperti tidak ada harganya sama sekali padahal pahlawan kita mengorbankan harta benda bahkan nyawa mereka untuk lepas dari belenggu para penjajah, oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang hanya menuruti nafsu akan kekuasaan, harta benda mereka melupakan jasa para pahlawan kita.

Sebelum Indonesia menjadi negara politikus para pemimpin yang terdahulu membuat dasar negara yang di sebut “pancasila”. Hampir semua orang tahu apa itu pancasila, tetapi hampir semua tidak tahu apa makna pancasila.

Banyak pejabat yang jujur dan tidak sedikit pejabat yang tidak jujur, patut diapresiasi para pejabat yang jujur karena mereka betul-betul memikirkan keadilan untuk rakyat seperti yang tertera pada sila ke-5, tetapi bagai mana pejabat yang tidak jujur? Pastinya membuat banyak kasus yang menguntungkan sepihak seperti korupsi, penggelapan uang negara dan lain-lain, persoalan seperti itu hanya akan merugikan diri seorang pelaku, negara , dan rakyat terutama.

Selain itu pada tahun sebelum tahun 2017 ini banyak kasus perang antar suku atau agama di karenakan masalah sepele, contohnya perang sampit 2001, perang antar suku di Papua, perang antar umat beragama di berbagai daerah yang hanya dikarenakan masalah yang seharusnya bisa di selesaikan dengan kepala dingin. Dari peristiwa tersebut artinya mereka sudah melupakan apa dasar negara Indonesia seperti yang tertera pada sila pertama dan ketiga yaitu tentang Ketuhanan Yang Maha Esa dan persatuan Indonesia.

Apakah contoh-contoh dari perbuatan tersebut sudah mencerminkan bahwa kita warga negara Indonesia sudah mengamalkan pancasila dan menghormati jasa para pahlawan kita yang memperjuangkan negara Indonesia untuk memiliki hak yang sama dengan negara-negara lain yang sudah jauh didepan mendahului kita?

Oleh sebab itu, usaha untuk mengingat jasa para pahlawan kita salah satunya dengan cara mengamalkan pancasila, mengamalkan pancasila itu ringan bukan seberat untuk pergi berperang, salah satunya kita mengikuti gotong royong membersihkan desa, bertoleransi terhadap agama lain, bermusyawarah dengan sesama, dan lain sebagainya.

Maka dari pengamalan pancasila itu kita dapat menjadi pribadi yang diharapkan oleh pendahulu kita yang berdasarkan pancasila. Membuat sebuah kalimat itu mudah tetapi mengamalkan kalimat yang dibuat itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab mulutmu harimaumu dan setiap perkataan yang terucap tidak bisa ditarik lagi.

Oleh: Syarif Hidayatullah/XI TKJ 4

Menelaah Nasionalisme Diri Kita Kepada Bangsa Sendiri

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Rakyat Indonesia menelan air mata darah dan mengalami penindasan oleh kolonialisme Belanda, Jepang, dan kawan-kawan pada masa lalu. Penderitaan, penindasan, kekerasan, pelecehan membuat rakyat menderita, sehingga muncul rasa persamaan nasib yang mempersatukan rakyat. Sejak kesadaran tentang persatuan inilah mulai terasa pemberontakan-pemberontakan atau perjuangan-perjuangan yang berarti dan terkoordinisir. Pemberontakan-pemberontakan macam ini merupakan cerminan Nasionalisme yang dimiliki rakyat masa itu.

Menurut J.E Renan Nasionalisme disebut sebagai sebuah rasa persamaan suatu kelompok atau bangsa yang berada dalam kondis ipenderitaan atau kesengsaraan maka timbulah rasa Nasionalisme tersebut. Pemberontakan atau perjuangan bangsa Indonesia bertujuan untuk mengusir penjajah dan mengganti susunan politik dan ekonomi pemerintah yang dipegangoleh para penjajah agar kembali kedalam genggaman bangsa Indonesia. Sehingga bisa diasumsikan Indonesia melakukan Radikalisme terhadap Kolonialisme.

Adeed Dawisha dalam bukunya The Arab Radicals (1968) mengartikan Radikal sebagai sikap jiwa yang membawa kepada tindakan-tindakan yang bertujuan melemahkan dan mengubah tatanan politik dan menggantinya dengan sistem yang baru.

Semua perjuangan, pemberontakan, Radikalisme itu yang membawa kemerdekaan, jadi apa mungkin Radikalisme yang mungkin “seram” dimata kita ternyata salah satu faktor penting dalam kemerdekaan?

Bagaiamana dengan “Amnesia Nasionalisme” Apakah merupakan hasil dari tindakan Radikaliame?

Nasionalisme dilihat dengan mata terbuka

Jika dilihat dari tatanan bahasa Nasionalisme terdiri dari Nasional dan isme, Saya yakin pasti kata “Nasional” sudah biasa terdengar di telinga kita.

Isme, adalah akhiran yang menandakan suatu paham atau ajaran atau kepercayaan (Wikipedia). Nasionalisme adalah suatu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah Negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia yang mempunyai tujuan atau cita-cita yang sama dalam mewujudkan kepentingan Nasional, dan Nasionalisme juga rasa ingin mempertahankan negaranya, baik dari dalam maupun luar (Wikipedia). Arti dari satu konsep identitas bersama adalah identitas Nasional. Indentitas Nasional Indonesia adalah ciri-ciri atau sifat-sifat khas Bangsa Indonesia yang membedakannya dengan Bangsa lain (www.youvitavhey.com). Tujuan atau cita-cita Nasional Indonesia tertuang pada pembukaan UUD 1945 alinea ke 4 yang berbunyi “……untuk melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan Bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial…..” dan pada alinea dua “……Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur……”.

Tapi jika ditelusuri lebih kebenarannya pada masa-masa sekarang Nasionalisme hanyalah kesadaran ketidak mampuan melakukan sesuatu sehingga membutuhkan orang lain untuk mendapatkan hasil atau perubahan yang di inginkan serta untuk memenuhi kebutuhan sosial. Secara simple Nasionalisme zaman sekarang hanya orang-orang yang bersifat individualistic bekerjasama. Mirip seperti masa perjuangan Indonesia masih bersifat kedaerahan. Kebanyakan, daerah-daerah hanya ingin selamat, bahkan jika ada pilihan, beberapa daerah pada masa itu akan memilih mengorbankan daerah lain agar daerah sendiri tetap aman. Tetapi lambat laun perjuangan kemerdekaan itu bersatu menjadi Nasionalisme sehingga akhirnya berhasil merdeka. Seperti roda terkadang diatas terkadang dibawah.

Pada zaman sekaranglah penerapan dan pemahaman Nasionalisme berada dibawah, tercermin dari banyaknya masyarakat yang lebih mementingkan apakata orang lain dari pada keadaan diri sendiri. Masyarakat yang mengukur kesuksesan dari penghasilan perbulan seseorang. Anggapan ini mendorong seseorang untuk melakukan kecurangan agar dapat untung yang sebanyak-banyaknya, seperti korupsi. Bahakan berdasarkan Corruption Perceptions index 2016, Indonesia beradapada posisi 90 dari total 176 negara dengan score 37 kita dikalahkan India yang mendapat peringkat 79 dengan score 40, dan Malaysia berada di peringkat 55 dengan score 49. Sedangkan berdasarkan Pusat Data Statistik (BPS) pada tahun2017  Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) Indonesia sebesar 3,71 pada skala 0 sampai 5. Angka ini lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2015 sebesar 3,59. Nilai indeks semakin mendekati 5 menunjukkan bahwa masyarakat berperilaku semakin anti korupsi, sebaliknya nilai IPAK yang semakin mendekati 0 menunjukan bahwa masyarakat berperilaku semakin permisif terhadap korupsi. IPAK masyarakat perkotaan lebih tinggi (3,86) dibanding masyarakat perdesaan (3,53). Semakin tinggi pendidikan, semakin anti korupsi. IPAK penduduk berpendidikan SLTP kebawah sebesar 3,58, SLTA sebesar 3,99, dan di atas SLTA sebesar 4,09. Indeks-indeks inilah yang mencerminkan kemajuan suatu Negara karena korupsi merupakan faktor yang sangat berpengaruh. Bukan berarti tulisan tersebut mencerminkan jiwa Bangsa Indonesia.

Dibanyak Negara, orang kehilangan sebagain kebutuhan dasarnya dan tidur kelaparan setiap malam karena korupsi, sementara yang berkuasa dan korup menikmati gaya hidup mewah tanpa hukuman  (Jose Ugaz, Chair of Transparency International).

Nasionalisme Pada Generasi Muda

Saya, kamu, dia, kita semua para generasi muda, semua materi atau pelajaran yang diberikanoleh guru bagi sebagian besar dari kita hanya berguna saat ujian atau tidak kita anggap berguna sama sekali. Pengaruh globalisasi menekan kita untuk selalu uptodate  ‘’ckrek sana, cekrek sini, upload sana, upload sini, like, coment, bagikan‘’ semua itu bagaikan ganja yang menyebabkan candu. Bahakan menurut data Global Sosial Media Research Summary 2017 dari www.smartinsights.com Indonesia selalu masuk ke dalam 10 besar dalam popularitas media social menurut Negara, media social yang kita maksud di sini adalah facebook, youtube, twiter, google plus. ‘’ Prestasi-prestasi’’  semacam inilah yang perlu kita pikirkan apakah ini sebuah kebangaan, bukti kemampuan, cemooh, atau keterpurukan, bisa jadi ini tanda Indonesia selalu uptodate, atau ini tanda sosmed telah memakan jiwa bangsa?.

Pernyataan tentang tingginya penggunaan sosmed tersebut menunjukan Indonesia sudah mengikuti kencangnya arus globalisasi. Seperti yang sudah tertulis dibanyak artikel lainnya, globalisasi membawa dampak positif dan negative. Salah satu dampak positive globalisasi adalah perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, dll. Sedangkan dampak besar negativenya adalah tergesernya nasionalisme, pancasila, hilangnya rasa gotong royong, dan sebenarnya masih banyak lagi tapi kita akan focus pada hilangnya warisan Negara. Sebagiaan rakyat Indonesia bahkan tidak tau atau menyadari warisan yang kita bahas. Para generasi muda lebih mengenal ‘’ Boy ‘’ atau sinetron lainnya yang sedang bumming ya….. ceritanya yaitu itu lagi cinta cintaan lagi. Kita sebagai generasi muda diharapkan mampun melestarikan budaya, mempertahankan idiologi, mengamalkan Nasionalisme, serta berpegang teguh pada dasar Negara. Tapi pada kenyataanya kita tidak bisa karena pengajaran-pengajaran tentang semua itu umumnya hanya berada di sekolah. Sedangkan kebalikan ajaran-ajaran tersebut sering bahkan dianggap biasa terjadi di masyarakat. Para orang dewasa yang seharusnya member contoh kebanyakan malah member pengaruh buruk. Itulah yang umumnya terjadi di Indonesia “guru” yang seharusnya member pengaruh baik malah membutuhkan pengajaran tentang kebaikan.

Memudarnya  Nasionalisme, Membangkitkan Radikalisme

Seperti yang sudah dibahas di atas tadi, dinamikan penurunan rasa Nasionalisme menyebabkan mudah berkembangnya paham Radikalisme yang bertentangan dengan Pancasila sebagai Dasar Negara. Sebelum Indonesia merdeka, paham Radikalisme bersifat positive karena menentang Kolonialisme dan ingin merebut kekuasaannya atas Tanah Air supaya kembai ketangan Indonesia. Tapi pada zaman sekarang Radikalisme besifat negative karena bersfat ingin merubah Dasar Negara yang dianggap sebagai pedoman yang paling benar. Faktor penting mudah berkembangnya Radikalisme yang bertentangan dengan dasar Negara adalah karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang Dasar Negaranya sendiri, jadi sebelum masyarakat mengenal yang benar masyarakat terlebih dahulu sudah dicekoki yang salah, sehigga persepsi kita tentang yang salah menjadi benar dan yang benar menjadi salah. Bisa diumpamakan sebuah cangkir yang seharusnya diisi susu, tapi sebelum diisi susu sudah diisi kopi. Ditambah dengan semangat-semangat “Jas Merah” (jangan sekali-kali melupakan sejarah) yang sudah tidak digembleng lagi. Tidak konsistensi dan ketidaktepatan tanpa ada kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah menyebabkan masyarakat kecewa terutama pada orang-orang dewasa sehingga rakyat ingin melupakan Negara. Orang-orang dewasa itu menurunkan kelupaannya pada generasi muda. Generasi muda yang diberikan ketidak pedulian tentang Negara ditambah dengan dampak negative Globalisasi menyebabkan banyak terjadi kesalahpahaman tentang Negara. Siapa tau lama kelamaan radikalisme itu menjadi “kebenaran”? Tapi yang pasti kita harus berheti menunggu dan melakukan tindakan. Kita sebagai Bangsa Indonesia seharusnya mulai mengenal Negara sendiri tidak harus selalu menunggu disosialisasikan.

“Jangan tanya apa yang Negara mulakukan untukmu tapi Tanya apa yang kamu lakukan untuk Negaramu” (John F. Kennedy).

Oleh: Gumelar Harta Mulyana/X TKJ 4

Peringati Hari Kesaktian Pancasila, SMK Negeri 2 Kudus Laksanakan Upacara Khusus

Posted Leave a commentPosted in Berita Sekolah

Kudus, Jawa Tengah, smkn2kudus.sch.id (2/10) Drs. Harto Sundoyo, M.Pd menjadi inspektur upacara dalam upacara Hari Kesaktian Pancasila, di lapangan utama SMK Negeri 2 Kudus, Senin (2/10/2017) pagi. Upacara berlangsung tepat pukul 07.00 WIB. Drs. Harto Sundoyo, M.Pd masuk ke mimbar upacara didampingi oleh Wahyu siswa Jurusan TKR SMK N 2 Kudus.

Pukul 07.15 WIB, upacara memasuki pembacaan teks pembukaan UUD 1945. Teks dibacakan oleh pihak OSIS. Sebelumnya, pembacaan teks Pancasila dibacakan oleh Drs. Harto Sundoyo, M.Pd dan Pembacaan ikrar Pancasila dibacakan oleh perwakilan OSIS SMK Negeri 2 Kudus.

Upacara berlangsung khidmat. Sejumlah menteri baik dari jurusan TAV, TKR, maupun TKJ hadir dalam upacara tersebut.

Drs. Harto Sundoyo, M.Pd mengungkapkan bahwa jangan sampai ada PKI di negera kita Indonesia, bukti nyata bahwa PKI kejam adalah dahulu kala para pegawai sipil hendak diculik oleh pihak komunis pada tahun 1965, tepat waktu itu adalah Ayah kandung saya dan mertua saya. Beruntung Ayah saya pindah ke Bangsri dan alhamdulillah Ayah dan mertua saya selamat. Tutup Drs. Harto Sundoyo, M.Pd. AF/Red

Ambalan Abiyoso Ambalan Ratu Shima Pangkalan SMK N 2 Kudus Laksanakan Musam

Posted Leave a commentPosted in Berita Sekolah

Kudus, Jawa Tengah, smkn2kudus.sch.id (24/9) Minggu, 24 September 2017 Ambalan Abiyoso Ambalan Ratu Shima Pangkalan SMK N 2 Kudus melaksanakan Musyawarah Ambalan (Musam) yang berlangsung dari pukul 07.30  hingga pukul 15.30.

“Sungguh luar biasa pengorbanan adik-adik yang telah meluangkan waktu Minggunya untuk kesekolah mengikuti kegiatan musyawarah Ambalan, saat yang lain dirumah berkumpul dengan keluarga atau bahkan ada yang belum bangun namun adik-adik disini sudah menjalankan tugas mulia untuk memilih pemimpin yang baru dalam satu tahun kedepan” ucap Dhian Seputro, S. Pd sebagai Pembina pramuka abiyoso dalam apel pembukaan kegiatan Musam.

Setelah dilakukannya apel pembukaan kegiatan ini dilanjutkan dengan sidang pendahuluan yang di ketuai oleh Saidatina Munawaroh Ainur Rosit untuk Ambalan Ratu Shima dengan wakil ketua Hilya Rifatul Muna dan Sekretaris yang dipilih secara acak sehingga terpilihlahAnnisa Rizqi Prananda, di ruang C2.1 sedangkan untuk Abiyoso di ketuai oleh Muhammad Budi Cahyono dengan wakil ketua Akbarul Pradam Fitriashona dan sekretaris Risky Bayu di ruangan C.2.2.

Menginjak acara Sidang Pleno 1 peserta di pisah menjadi 3 bagian yakni Komisi A yang merencanakan Program Kerja selama 1 tahun yang akan datang di ruang C2.1, Komisi B yang membahas Peraturan Pradana di ruang C2.2, dan yang terakhir Komisi C yang membahas Peradatan serta Konsekuensi jika ada salah satu anggota pramuka yang melanggar adat yang telah di tentukan.

Selanjutnya, tepat pukul 12.00 anggota sidang di Istirahatkan untuk menjalankan ibadah shalat Dhuhur bagi yang Muslim dan dilanjutkan dengan acara makan siang bersama di Lobi dengan alas lauk seadanya yang penting makan bersama.

Setelah Istirahat selesai Anggota Musam dimasukkan ke ruang A1.1 untuk mempresntasikan hasil musyawarah per Komisi. Kemudian masuklah ke Acara inti yakni pemilihan Pradana, dengan proses yang panjang dan melalui berbagia pertimbangan akhirnya telah di tentukannya Pradana yang baru untuk Ambalan Abiyoso terpilihlah Wahyu Utomo dan untuk Ambalan Ratu Shima Attya Nurril Hidayah.

“ Semoga bisa saling melengkapi kekurangan dan selalu mengutamakan solidaritas “ pesan Muhtarom dan Jania selaku Pradana masa bakti 2016/2017. NYL/Red

SMK Negeri 2 Kudus Raih Juara 1 LKS Bidang Web Design dan Graphic Design Technologi Tingkat Kabupaten

Posted Leave a commentPosted in Berita Sekolah

 

Kudus, Jawa tengah, smkn2kudus.sch.id (16/9) SMK Negeri 2 Kudus berhasil meraih juara I Lomba Kompetensi Siswa bidang Web Design dan Graphic Design Technologi tingkat Kabupaten Kudus serta juara II pada bidang Electronic Application. Pelaksanaan lomba bertempat di SMK N 2 Kudus dan SMK Raden Umar Said  tanggal (16/9/2017).

Peserta lomba diikuti oleh seluruh siswa SMK se Kabupaten Kudus dengan jurusan TKJ, Multimedia dan TAV serta dewan juri dari akademisi dan pihak DuDi.

“Lomba ini bertujuan untuk meningkatkan skill khususnya skill dibidangnya bagi peserta didik sehingga mereka punya bekal dan daya saing di dunia industri ” kata Mulyono, Staf guru TKJ pada hari Sabtu (16/9/2017).

Ia menuturkan dalam lomba tersebut siswa diberikan soal seperti membuat website untuk LKS Web Desig, melakukan peckeging, membuat logo pada LKS Graphic Design Technologi. Siswa juga menyelesaikan beberapa pekerjaaan yang lain.

Sementara itu, kontigen SMK Negeri 2 Kudus yang diwakili oleh Fikri Nur Syahbani pada LKS bidang Web Design dan Chandra Bagus Hariyadi N pada LKS Bidang Graphic Design Technologi akan melanjutkan ke LKS Provinsi yang dilaksanakan pada 22 Oktober 2017.

“Ini berita baik bagi kita, saya berharap pendidikan di SMK Negeri 2 Kudus semakin meningkat, rencana bulan Oktober kita kirim ke Pati untuk maju ke tingkat provinsi” Tutup Muh. Fatah Al Ghoni. DA/Red