Hari Pramuka, AKP Suharyanto Berpesan Untuk Jauhi Narkoba

Posted Leave a commentPosted in Berita Sekolah

Kudus, Jawa Tengah, smkn2kudus.sch.id (14/8) Upacara peringatan hari Pramuka yang ke-52 dilaksanakan oleh seluruh keluarga besar SMK Negeri 2 Kudus, selain itu juga dihadiri dari pihak Kepolisian. Pelaksanaan upacara bertempat dilapangan utama SMK Negeri 2 Kudus yang dimulai pada pukul 07.00 WIB, Senin (14/8).

Petugas upacara kali ini langsung dari anggota Bantara Abirama (Abiyoso-Ratushima). Prosesi acara tersebut berlangsung secara khidmat karena untuk kali ini Pembukaan UUD 1945, Dasa Dharma dan Tri Satya tanpa membaca teks.

Pembina upacara peringatan hari pramuka untuk kali ini dari Kepolisian yang diwakili oleh Kapolsek kecamatan Dawe AKP Suharyanto, beliau menyampaikan mengenai perihal narkoba. Siswa SMK Negeri 2 Kudus diharap agar senantiasa menjauhi barang terlarang yaitu narkoba, karena kita tahu bahwa narkoba adalah salah satu perusak bangsa, perusak diri kita. Ujar AKP Suharyanto.

Tambahnya, kita harus mewaspadai peredaran narkoba, karena benda tersebut sudah beredar ke siswa-siswa, Perlu di ingat hukuman bagi pengedar narkoba dan pemaakai narkoba adalah berat. Tutup AKP Suharyanto.

Di akhir upacara ditutup dengan menyanyikan lagu Himne pramuka dengan suasana yang sangat Khitmad dan foto bersama antara para anggota kepolisian dan para siswa kelas X dan XI. LS/Red

Tim Gerak Jalan Skada Ikuti Lomba Gerak Jalan Kabupaten Kudus

Posted Leave a commentPosted in Berita Sekolah

Kudus, Jawa Tengah, smkn2kudus.sch.id (14/8) Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang Ke-72, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kudus melepaskan lomba gerak jalan SMP dan SMA yang ada di Kecamatan Kota Kabupaten Kudus Senin, (14/8) siang.

Adapun peserta meliputi pelajar dari tingkat SMP/MTs, SMA/SMK/MA baik negeri dan swasta se Kabupaten Kudus yang berjumlah 92 regu putra dan 92 regu putri dari 92 sekolah.

Pelepasan lomba gerak jalan ditandai dengan pengibaran bendera oleh Kepala Disdikpora Drs. Joko Susilo dengan diikuti oleh seluruh sekolah tingkat SMP/MTs, SMA/SMK/MA itu ditempuh dengan jarak kurang lebih 5,5 kilometer.

Pihaknya menjelaskan, rute yang harus dilewati para peserta gerak jalan adalah Start Finish dari halaman GOR Bungkarno Wergu Wetan berjalan menuju arah barat hingga gang 4, dilanjutkan belok kiri menuju arah tugu identitas. Dari traffict light Pasar Bitingan ke barat lurus sampai Pengkol Purwosari belok kanan, perempatan bangjo Jember ke timur, Simpang tujuh, ketimur arah Pentol lalu keselatan, kemudian Bangjo Bejagan lurus lewat perempatan kaeretan ke barat sampai Finish di halaman GOR Bungkarno Wergu Wetan.

Anggota dan susunan barisan, lanjut Harjuno, Setiap regu terdiri dari 11 orang termasuk komandan regu. Kemudian barisan berjajar dua ke belakang, dengan komandan regu disamping barisan.

Sebelumnya kegiatan lomba gerak jalan dilakukan dengan upacara pembukaan yang dipimpin secara langsung oleh Drs. Joko Susilo dan dihadiri oleh Camat Kota.

Tim gerak jalan SMK Negeri 2 Kudus baik kontigen putra maupun putri pun ikut andil dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan RI yang ke-72. Anisa Nurul yang bertugas sebagai pemimpin kontigen putri menuturkan bahwa “ini adalah pertama kali saya ikut gerak jalan dan alhamdulillah dipercaya menjadi pemimpin barisan putri”.

Tambahnya dia mengatakan bahwa gerak jalan kali ini sangat membuat hati kami gembira dan tentunya kami semua merasa bahagia atas kemerdekaan yang direbut oleh pahlawan yang telah mendahuliu kami. Tutup Anisa.

Kegiatan Lomba gerak jalan selain memperingati HUT Kemerdekaan RI yang ke 72 juga sekaligus sebagai sarana untuk membangun karakter anak dan menggali bakat di bidang olahraga. FR/Red

Ambalan Abiyoso-Ratushima Pangkalan SMK N 2 Kudus Bentuk Karakter Siswa Melalui Penerimaan Tamu Ambalan

Posted Leave a commentPosted in Berita Sekolah

Kudus, Jawa Tengah, smkn2kudus.sch.id (12/8) Gerakan Pramuka Indonesia merupakan organisasi yang menjadi wadah pengembangan karakter dan proses pendidikan. Salah satu kegiatan bagi calon penegak yaitu Penerimaan Tamu Ambalan (PTA).

Gerakan Pramuka Ambalan Abiyoso-Ratushima Pangkalan SMK Negeri 2 Kudus telah mengadakan kegiatan perkemahan Sabtu-Minggu (Persami) dalam PTA yang dilaksanakan pada 12-13 Agustus di lapangan SMK Negeri 2 Kudus. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti oleh siswa kelas 10 yang pada dasarnya adalah calon penegak dalam gerakan Pramuka ketika mereka masuk ke jenjang Sekolah Menengan Kejuruan. Tercatat 430 peserta telah resmi menjadi anggota Abiyoso-Ratushima Pangkalan SMK Negeri 2 Kudus tahun 2017.

 

Kegiatan ini dibuka oleh Pembina Pramuka, Kak Harto Sundoyo, M.Pd dengan dihadiri oleh pembina Pramuka. Dalam sambutannya ia menghimbau agar kegiatan pramuka ini dapat berdampak positif terhadap perkembangan karakter. “Saya berharap agar kegiatan ini dapat memberikan manfaat positif berupa berkembangnya karakter anggota pramuka.” Ucapnya.

Kegiatan tersebut berjalan dengan tertib dan sesuai dengan agenda yang telah dijadwalkan oleh panitia. Api unggun juga menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta. Panitia juga mengadakan kegiatan shalat secara berjamaah diikuti oleh tausiyah untuk menyentuh kepekaan terhadap sisi religius peserta. DA/Red

Komite SMK N 2 Kudus Bahas Bantuan Dana Sekolah

Posted Leave a commentPosted in Berita Sekolah

Kudus, Jawa Tengah, smkn2kudus.sch.id (29/7) Pemberlakuan SPP di SMA/ SMK membuat komite sekolah segera mengambil tindakan. Meski masih ada yang berkeberatan, sebagian wali murid akhirnya sepakat bahwa sekolah tidak lagi gratis. Bahkan, mereka menyadari bahwa kemampuan sekolah untuk memberikan pelayanan seperti sebelumnya semakin terbatas.

Salah satunya dilakukan komite SMK Negeri 2 Kudus. Mereka menggelar rapat. Tujuannya membicarakan sedekah kepada pihak sekolah. Harapannya, pelayanan yang diberikan sekolah tidak berkurang. ”Kalau diminta untuk ber sedekah, kami yakin banyak yang mau,” ujar Ketua Komite SMK Negeri 2 Kudus yang diwakili oleh Supriyono, S.H (29/7).

Dalam rapat tersebut, dihitung kemampuan rata-rata wali murid untuk bisa membantu sekolah. Sedekah  itu, menurut Supriyono, merupakan bentuk kesadaran komite terhadap beban yang saat ini harus ditanggung sekolah.

Komite juga mendesak sekolah untuk segera menetapkan mekanisme pembayaran. Sebab, pada sosialisasi yang dilakukan Sabtu (29/7), pihak sekolah belum menentukan siapa saja yang bakal dibebaskan untuk tidak ber sedekah. ”Kalau bisa ada home visit supaya bisa diketahui mana wali murid yang kurang mampu dan mana yang mampu,” imbuhnya.

Ketua Komite SMK Negeri 2 Kudus yang kali ini diwakili Supriyono, S.H menyatakan, sebagaimana masyarakat lainnya, komite juga menjadi pelaksana. Lantaran sudah menjadi keputusan pemerintah bahwa SMA/SMK dikelola provinsi, pihaknya hanya mengikuti aturan. ”Mereka tidak keberatan gendong ngindit, tidak keberatan untuk saling membantu. Kalau ada niat baik, pasti ada jalan,” ungkapnya. AF/Red

Amanat Menjaga Nasionalisme

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Benedict Anderson membuat catatan menarik dalam karyanya Imagined Communities: “Itulah contoh watak nasionalisme resmi yang jelas—strategi antisipatif yang diadopsi oleh kelompok-kelompok dominan yang merasa terancam oleh pinggiran (marginalisasi) atau pengucilan (ekslusi) dari komunitas kebangsaan imajiner yang baru”.

Catatan ini menjadi sindiran, bahwa setiap bangsa memastikan dirinya memiliki kelas sosial. Dari kelas sosial inilah lahir kesenjangan-kesenjangan yang mampu melahirkan konflik. Maka model gerakan nasionalisme itu menjadikan tali perekat dari problem kesenjangan dimaksud. Nasionalisme ingin mencoba merapatkan keberbedaan yang ada. Dimana hakikat dari nasionalisme berusaha mempersatukan perbedaan.

Untuk menyatukannya tentu membutuhkan ikatan kuat. Dalam bahasa janji penduduk Indonesia diikrarkanlah komitmen: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa: Indonesia. Semua penduduk Indonesia merasakan bersama-sama lelah dan pedih saat dijajah. Sama-sama merasakan bahagia di saat merdeka. Dan kini, kemerdekaan yang telah berusia tujuh puluh tahun dinikmati secara bersama-sama.

Yang patut dikhawatirkan hari ini adalah penduduk Indonesia. Kenapa? Masihkah ratusan juta penduduknya memiliki nasionalisme? Sebuah pertanyaan yang patut untuk dijawab bersama. Ada anggapan bahwa nasionalisme penduduk Indonesia mulai luntur. Kok bisa? Bisa, karena semakin banyak muncul teroris dan menjamurnya aliran radikal. Sebab terorisme dan radikalisme lahir karena hilangnya nasionalisme.

Namun tidak perlu ragu. Di sisi lain, masih banyak penduduk Indonesia yang masih kuat memegang janji nasionalismenya. Oleh sebab itu, musuh bangsa yang berasal dari dalam negeri perlu disadarkan kembali. Ruh nasionalisme perlu kembali dibangkitkan. Rasa cinta bangsa juga perlu digugah. Sehingga semangat memiliki Indonesia dan menjadikannya maju selalu berkobar.

Menjaga Diri

Hilangnya nasionalisme karena jiwa kebangsaan mengalami gangguan. Maka gangguan-ganguan itu perlu disadarkan. Disinilah butuh kesadaran berkebangsaan. Ada pesan indah dari Syaikh Mushtofa Alghulayaini dalam kitab Idzatun Nasyi’in: “Rasa kebangsaan yang sejati adalah suka untuk memperbaiki negara, berusaha untuk melayaninya. Orang yang paling besar rasa kebangsaannya adalah orang yang bersedia mati untuk mensejahterakan negaranya dan bersedia sakit untuk menyehatkan umatnya”.

Sungguh luar biasa. Itulah yang dimaksud dengan jatidiri bangsa yang sejati. Lalu bagaimana membangun nasionalisme di masa sekarang? Yang jelas, Indonesia memiliki Pancasila. Itulah yang perlu dijaga dan dilestarikan. Bahwa Pancasila selalu menjadi ruh kehidupan berbangsa yang terpatri secara mendalam. Tentunya Pancasila yang memiliki keberpihakan kepada semua warga. Bukan Pancasila yang diterjemahkan untuk kepentingan koorporasi.

Jika ditarik dari pesan Syaikh Mushtofa di atas, maka ada pesan 4M yang perlu dijalankan dalam mempertegas nasionalisme: memperbaiki, melayani, mensejahterakan dan menyehatkan. Bahwa bangsa Indonesia yang besar ini tidak mungkin bisa dipersatukan jika pemerintah tidak tuntas menggarap 4M ini. Berikut pula, pemerintah tidak mungkin berjalan sendiri bersama aparatnya, namun haru melibatkan masyarakat.

Maka pada titik inilah sinergi pemerintah dan rakyat menjadi sangat penting. Tiga pokok dalam unsur negara harus selalu diperhatikan: penduduk (rakyat), wilayah dan pemerintah. Di sisi lain rakyat memiliki kewenangan, namun negara dalam konteks normatif juga memerankan tiga sifat: memaksa, monopoli dan mencakup semua (all encompassing, all embracing). Oleh karenanya, rakyat perlu berperan aktif mejaga komunikasi baik. Dan pemerintah tidak seenaknya sendiri dalam menjalankan fungsi 4M.

Kegagalan mempertahankan nasionalisme di negeri ini dipengaruhi kuat oleh deideologisasi Pancasila dan radikalisme agama. Dua hal ini yang menjadikan suasana persatuan dan kesatuan bangsa mengalami gesekan. Dibutuhkan solusi jitu dalam mencairkan suasana harmoni keindonesiaan yang akhir-akhir ini mengalami titik sumbatan kronis.

Deideologisasi Pancasila sengaja dilakukan oleh oknum warga yang tidak sepakat dengan prinsip hidup bernegara secara heterogen. Padahal ini menjadi ancaman serius. Ketika Indonesia sudah tidak lagi yakin dengan hidup berpancasila, ini sama dengan ingin Indonesia pecah. Maka gerakan semacam ini perlu segara diantisipasi.

Adanya kelompok yang tidak mau menghormat bendera dan tidak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya sudah nyata di depan mata. Sudah saatnya pemerintah hadir untuk melakukan pembinaan. Dengan siapa? Pemerintah tidak bisa sendirian menghadapinya. Haru bersama-sama dengan warga negara yang memiliki komitmen kuat terhadap hidup berbangsa dengan Pancasila.

Masalah radikalisme agama juga menjadi tantangan serius bagi Indonesia. Selama pemahaman agama dijadikan pilihan untuk menyalahkan agama lain, maka disitu awal dari konflik. Dan konflik agama dalam hidup berindonesia selalu berbuntut panjang. Maka komitmen untuk menjadi kerukunan agama, turut serta mempengaruhi nalar kebangsaan kita semua.

Atas dasar meneguhkan jati diri bangsa Indonesia yang memegang teguh Undang-undang Dasar 1945 dan Pancasila, maka agama dijadikan pemersatu bangsa. Caranya? Mengajak pada semua tokoh-tokoh agama untuk mengajarkan agama yang damai dan penuh cinta kasih. Negara bersama dengan warga negara melakukan giat aktif penyebaran penanaman cinta agama dan cinta bangsa.

Dengan model cinta agama dan cinta bangsa ini, bangunan nasionalisme akan berjalan secara baik. Usaha semacam ini juga tidak akan sukses tergarap dengan baik tanpa adanya kerjasama yang kuat. Sebab bangsa Indonesia dengan potensi perbedaan yang sangat besar ini butuh kerjasama yang kuat. Kemungkinan-kemungkinan adanya kesepakatan jahat merusak kesatuan Indonesia perlu dihadapi secara tegas dan penuh kearifan.

Yang jelas bahwa menjaga nasionalisme adalah amanat. Amanat yang tidak sepele, tetap amanat mulia yang sangat berat. Maka semuanya harus bersatu padu: negeri sudah tua, maka harus dijaga dengan penuh cinta kasih.

Rikza Chamami

Dosen UIN Walisongo dan Peneliti Aliansi Kebangsaan