Ambalan Abiyoso-Ratushima Pangkalan SMK N 2 Kudus Bentuk Karakter Siswa Melalui Penerimaan Tamu Ambalan

Posted Leave a commentPosted in Berita Sekolah

Kudus, Jawa Tengah, smkn2kudus.sch.id (12/8) Gerakan Pramuka Indonesia merupakan organisasi yang menjadi wadah pengembangan karakter dan proses pendidikan. Salah satu kegiatan bagi calon penegak yaitu Penerimaan Tamu Ambalan (PTA).

Gerakan Pramuka Ambalan Abiyoso-Ratushima Pangkalan SMK Negeri 2 Kudus telah mengadakan kegiatan perkemahan Sabtu-Minggu (Persami) dalam PTA yang dilaksanakan pada 12-13 Agustus di lapangan SMK Negeri 2 Kudus. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti oleh siswa kelas 10 yang pada dasarnya adalah calon penegak dalam gerakan Pramuka ketika mereka masuk ke jenjang Sekolah Menengan Kejuruan. Tercatat 430 peserta telah resmi menjadi anggota Abiyoso-Ratushima Pangkalan SMK Negeri 2 Kudus tahun 2017.

 

Kegiatan ini dibuka oleh Pembina Pramuka, Kak Harto Sundoyo, M.Pd dengan dihadiri oleh pembina Pramuka. Dalam sambutannya ia menghimbau agar kegiatan pramuka ini dapat berdampak positif terhadap perkembangan karakter. “Saya berharap agar kegiatan ini dapat memberikan manfaat positif berupa berkembangnya karakter anggota pramuka.” Ucapnya.

Kegiatan tersebut berjalan dengan tertib dan sesuai dengan agenda yang telah dijadwalkan oleh panitia. Api unggun juga menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta. Panitia juga mengadakan kegiatan shalat secara berjamaah diikuti oleh tausiyah untuk menyentuh kepekaan terhadap sisi religius peserta. DA/Red

Komite SMK N 2 Kudus Bahas Bantuan Dana Sekolah

Posted Leave a commentPosted in Berita Sekolah

Kudus, Jawa Tengah, smkn2kudus.sch.id (29/7) Pemberlakuan SPP di SMA/ SMK membuat komite sekolah segera mengambil tindakan. Meski masih ada yang berkeberatan, sebagian wali murid akhirnya sepakat bahwa sekolah tidak lagi gratis. Bahkan, mereka menyadari bahwa kemampuan sekolah untuk memberikan pelayanan seperti sebelumnya semakin terbatas.

Salah satunya dilakukan komite SMK Negeri 2 Kudus. Mereka menggelar rapat. Tujuannya membicarakan sedekah kepada pihak sekolah. Harapannya, pelayanan yang diberikan sekolah tidak berkurang. ”Kalau diminta untuk ber sedekah, kami yakin banyak yang mau,” ujar Ketua Komite SMK Negeri 2 Kudus yang diwakili oleh Supriyono, S.H (29/7).

Dalam rapat tersebut, dihitung kemampuan rata-rata wali murid untuk bisa membantu sekolah. Sedekah  itu, menurut Supriyono, merupakan bentuk kesadaran komite terhadap beban yang saat ini harus ditanggung sekolah.

Komite juga mendesak sekolah untuk segera menetapkan mekanisme pembayaran. Sebab, pada sosialisasi yang dilakukan Sabtu (29/7), pihak sekolah belum menentukan siapa saja yang bakal dibebaskan untuk tidak ber sedekah. ”Kalau bisa ada home visit supaya bisa diketahui mana wali murid yang kurang mampu dan mana yang mampu,” imbuhnya.

Ketua Komite SMK Negeri 2 Kudus yang kali ini diwakili Supriyono, S.H menyatakan, sebagaimana masyarakat lainnya, komite juga menjadi pelaksana. Lantaran sudah menjadi keputusan pemerintah bahwa SMA/SMK dikelola provinsi, pihaknya hanya mengikuti aturan. ”Mereka tidak keberatan gendong ngindit, tidak keberatan untuk saling membantu. Kalau ada niat baik, pasti ada jalan,” ungkapnya. AF/Red

Amanat Menjaga Nasionalisme

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Benedict Anderson membuat catatan menarik dalam karyanya Imagined Communities: “Itulah contoh watak nasionalisme resmi yang jelas—strategi antisipatif yang diadopsi oleh kelompok-kelompok dominan yang merasa terancam oleh pinggiran (marginalisasi) atau pengucilan (ekslusi) dari komunitas kebangsaan imajiner yang baru”.

Catatan ini menjadi sindiran, bahwa setiap bangsa memastikan dirinya memiliki kelas sosial. Dari kelas sosial inilah lahir kesenjangan-kesenjangan yang mampu melahirkan konflik. Maka model gerakan nasionalisme itu menjadikan tali perekat dari problem kesenjangan dimaksud. Nasionalisme ingin mencoba merapatkan keberbedaan yang ada. Dimana hakikat dari nasionalisme berusaha mempersatukan perbedaan.

Untuk menyatukannya tentu membutuhkan ikatan kuat. Dalam bahasa janji penduduk Indonesia diikrarkanlah komitmen: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa: Indonesia. Semua penduduk Indonesia merasakan bersama-sama lelah dan pedih saat dijajah. Sama-sama merasakan bahagia di saat merdeka. Dan kini, kemerdekaan yang telah berusia tujuh puluh tahun dinikmati secara bersama-sama.

Yang patut dikhawatirkan hari ini adalah penduduk Indonesia. Kenapa? Masihkah ratusan juta penduduknya memiliki nasionalisme? Sebuah pertanyaan yang patut untuk dijawab bersama. Ada anggapan bahwa nasionalisme penduduk Indonesia mulai luntur. Kok bisa? Bisa, karena semakin banyak muncul teroris dan menjamurnya aliran radikal. Sebab terorisme dan radikalisme lahir karena hilangnya nasionalisme.

Namun tidak perlu ragu. Di sisi lain, masih banyak penduduk Indonesia yang masih kuat memegang janji nasionalismenya. Oleh sebab itu, musuh bangsa yang berasal dari dalam negeri perlu disadarkan kembali. Ruh nasionalisme perlu kembali dibangkitkan. Rasa cinta bangsa juga perlu digugah. Sehingga semangat memiliki Indonesia dan menjadikannya maju selalu berkobar.

Menjaga Diri

Hilangnya nasionalisme karena jiwa kebangsaan mengalami gangguan. Maka gangguan-ganguan itu perlu disadarkan. Disinilah butuh kesadaran berkebangsaan. Ada pesan indah dari Syaikh Mushtofa Alghulayaini dalam kitab Idzatun Nasyi’in: “Rasa kebangsaan yang sejati adalah suka untuk memperbaiki negara, berusaha untuk melayaninya. Orang yang paling besar rasa kebangsaannya adalah orang yang bersedia mati untuk mensejahterakan negaranya dan bersedia sakit untuk menyehatkan umatnya”.

Sungguh luar biasa. Itulah yang dimaksud dengan jatidiri bangsa yang sejati. Lalu bagaimana membangun nasionalisme di masa sekarang? Yang jelas, Indonesia memiliki Pancasila. Itulah yang perlu dijaga dan dilestarikan. Bahwa Pancasila selalu menjadi ruh kehidupan berbangsa yang terpatri secara mendalam. Tentunya Pancasila yang memiliki keberpihakan kepada semua warga. Bukan Pancasila yang diterjemahkan untuk kepentingan koorporasi.

Jika ditarik dari pesan Syaikh Mushtofa di atas, maka ada pesan 4M yang perlu dijalankan dalam mempertegas nasionalisme: memperbaiki, melayani, mensejahterakan dan menyehatkan. Bahwa bangsa Indonesia yang besar ini tidak mungkin bisa dipersatukan jika pemerintah tidak tuntas menggarap 4M ini. Berikut pula, pemerintah tidak mungkin berjalan sendiri bersama aparatnya, namun haru melibatkan masyarakat.

Maka pada titik inilah sinergi pemerintah dan rakyat menjadi sangat penting. Tiga pokok dalam unsur negara harus selalu diperhatikan: penduduk (rakyat), wilayah dan pemerintah. Di sisi lain rakyat memiliki kewenangan, namun negara dalam konteks normatif juga memerankan tiga sifat: memaksa, monopoli dan mencakup semua (all encompassing, all embracing). Oleh karenanya, rakyat perlu berperan aktif mejaga komunikasi baik. Dan pemerintah tidak seenaknya sendiri dalam menjalankan fungsi 4M.

Kegagalan mempertahankan nasionalisme di negeri ini dipengaruhi kuat oleh deideologisasi Pancasila dan radikalisme agama. Dua hal ini yang menjadikan suasana persatuan dan kesatuan bangsa mengalami gesekan. Dibutuhkan solusi jitu dalam mencairkan suasana harmoni keindonesiaan yang akhir-akhir ini mengalami titik sumbatan kronis.

Deideologisasi Pancasila sengaja dilakukan oleh oknum warga yang tidak sepakat dengan prinsip hidup bernegara secara heterogen. Padahal ini menjadi ancaman serius. Ketika Indonesia sudah tidak lagi yakin dengan hidup berpancasila, ini sama dengan ingin Indonesia pecah. Maka gerakan semacam ini perlu segara diantisipasi.

Adanya kelompok yang tidak mau menghormat bendera dan tidak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya sudah nyata di depan mata. Sudah saatnya pemerintah hadir untuk melakukan pembinaan. Dengan siapa? Pemerintah tidak bisa sendirian menghadapinya. Haru bersama-sama dengan warga negara yang memiliki komitmen kuat terhadap hidup berbangsa dengan Pancasila.

Masalah radikalisme agama juga menjadi tantangan serius bagi Indonesia. Selama pemahaman agama dijadikan pilihan untuk menyalahkan agama lain, maka disitu awal dari konflik. Dan konflik agama dalam hidup berindonesia selalu berbuntut panjang. Maka komitmen untuk menjadi kerukunan agama, turut serta mempengaruhi nalar kebangsaan kita semua.

Atas dasar meneguhkan jati diri bangsa Indonesia yang memegang teguh Undang-undang Dasar 1945 dan Pancasila, maka agama dijadikan pemersatu bangsa. Caranya? Mengajak pada semua tokoh-tokoh agama untuk mengajarkan agama yang damai dan penuh cinta kasih. Negara bersama dengan warga negara melakukan giat aktif penyebaran penanaman cinta agama dan cinta bangsa.

Dengan model cinta agama dan cinta bangsa ini, bangunan nasionalisme akan berjalan secara baik. Usaha semacam ini juga tidak akan sukses tergarap dengan baik tanpa adanya kerjasama yang kuat. Sebab bangsa Indonesia dengan potensi perbedaan yang sangat besar ini butuh kerjasama yang kuat. Kemungkinan-kemungkinan adanya kesepakatan jahat merusak kesatuan Indonesia perlu dihadapi secara tegas dan penuh kearifan.

Yang jelas bahwa menjaga nasionalisme adalah amanat. Amanat yang tidak sepele, tetap amanat mulia yang sangat berat. Maka semuanya harus bersatu padu: negeri sudah tua, maka harus dijaga dengan penuh cinta kasih.

Rikza Chamami

Dosen UIN Walisongo dan Peneliti Aliansi Kebangsaan

Membendung Amnesia Nasionalisme

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Usaha menyatukan bangsa Indonesia dari ujung Aceh hingga ujung Papua tergolong tidak mudah. Sejarah mencatat, dinamika mendirikan negara Indonesia dibayar dengan harga mahal. Diskusi demi diskusi dilakukan. Perbedaan pendapat dan debat kusir juga tidak jarang dilakukan. Namun, perbedaan dan debat kusir itu semua hilang hanya demi satu hal, persatuan.

Melihat sedemikian panjangnya proses sejarah itu dilalui, maka menjadi sedih jika hari ini ada pihak yang ingin memecahbelah bangsa Indonesia. Bukan karena apa-apa, tapi hanya karena nafsu kekuasaan, persatuan ditinggalkan. Ada gejala apa ini? Yang jelas ada gejala ujian demokrasi. Sebab demokrasi memang mewadahi dan mensahkan perbedaan. Jadi, jika bangsa ini masih takut berbeda, berarti demokrasi belum dipahami dengan baik.

Resiko menjadi bangsa dengan slogan demokrasi memang seperti yang dirasakan hari-hari ini. Puncak dari “ujian akhir demokrasi” selalu ada pada proses politik, yang disebut sebagai Pemilihan Umum atau Pemilihan Kepala Daerah. Setiap momentum Pemilu atau Pilkada selalu muncul isu-isu pecah belah. Itu wajar terjadi dan tidak perlu dirisaukan. Sepanjang semua berjalan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku.

Ada suasana yang dikesankan akan membuat “Indonesia Mencekam” di hari Jum’at 4 November 2016. Ada apa itu? Seruan untuk membela salah satu agama mayoritas di Indonesia atas indikasi penistaan agama. Yang dituduh menistakan agama adalah salah satu Calon Gubernur DKI yang sedang berkontestasi—yang beragama beda. Dan yang menyerukan, tentu saja pihak yang sejak awal ingin Calon Gubernur itu berkuasa kembali.

Melawan Lupa

“Melupakan karya pejuang bangsa itu kurang etika” demikian kira-kira renungan yang patut disimpulkan. Jadi kalau para pejuang itu meninggalkan warisan persatuan dan kesatuan, dan kini akan dilupakan itu juga tidak etis. Intinya bangsa Indonesia harus tetap bersatu padu dengan penuh kesadaran bahwa semua memiliki perbedaan. Termasuk perlu disadari adanya perbedaan agama.

Salah satu isu sensitif yang selalu digunakan untuk memecah belah persatuan bangsa adalah soal agama. Agama nampak selalu dijadikan alat dalam membuah “Indonesia Mencekam”. Apalagi seruan demo untuk mengadili sosok penista agama, jelas-jelas sudah ditarik sebagai isu SARA. Apa ada yang janggal? Sangat janggal. Kejanggalannya terletak pada pemaksaan kehendak dengan penuh intimidasi.

Inilah jika agama dipahami secara kaku dan tanpa batas di tengah kehidupan berpancasila. Agama selalu hadir menjadi pengajak nahi munkar (melawan kemungkaran), sedangkan visi agama dengan amar ma’ruf (mengajak kebaikan) terabaikan. Agama dengan semangat nahi munkar tanpa amar ma’ruf ini akan melahirkan kaum “agamis-ejakulatif”. Mereka tampil dengan simbol-simbol agama dengan penuh kegarangan tanpa senyuman.

Memang sekali lagi bahwa kita tidak boleh lupa. Harus benar-benar sadar. Bahwa perbedaan itu sah. Satu pihak ingin Calon Gubernur itu tidak jadi dengan caranya yang demikian “galak”. Di sisi lain, ada yang ingin jagonya menang, dengan cara-cara yang konstitusional penuh dengan kedamaian. Disinilan nampak kelas sosial, mana yang memiliki kemampuan pengendalian emosi dan sisi lain terbawa oleh emosi semata.

Ada bahaya yang akan terjadi jika demo berkedok agama ini dibiarkan liar. Apa itu? Bahaya citra Ibukota Negara sebagai lokus titik-lihat dunia akan tercoreng. Indonesia yang sudah dikenal sebagai bangsa damai dan rukun dalam lima peristiwa itu akan menjadi sorotan dunia. Bahaya lainnya adalah pendomplengan kelompok-kelompok tertentu yang memang menginginkan Indonesia rusuh.

Oleh sebab itu, usaha untuk membendung amnesia nasionalisme itu menjadi sangat penting. Paham-paham kebangsaan yang sudah tertanam rapi jangan sampai dilupakan. Nasionalisme itu sederhana, melihat perbedaan dengan penuh kesadaran untuk membuat persatuan. Itu saja. Maka dengan segala titik beda itu, semua akan merasa perlu dicari pertemuan dalam perbedaan.

Menyatukan perbedaan itu tidak mudah. Apalagi jika agama menjadi alat pemisah perbedaan itu. Disinilah dibutuhkan agama inklusif, yakni paham agama yang berpadu dengan nasionalisme. Apa bisa? Sangat bisa. Asalkan agama itu dipahami secara matang berasal dari sumber asalnya dan memahami filosofi ketuhanan dan mencipta agama. Sebab agama apapun selalu mengajari tentang kebaikan dan perdamaian.

Oleh: M. Rikza Chamami

Dosen UIN Walisongo Semarang & Anggota Kaukus Aliansi Kebangsaan

Selama MPLS, Siswa SMK Negeri 2 Kudus Ikuti Pendidikan Bela Negara

Posted Leave a commentPosted in Berita Sekolah

Kudus, Jawa Tengah, smkn2kudus.sch.id (20/7) Usai laksanakan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Senin (17/07) sampai dengan Rabu (19/07) lalu. Para peserta didik baru tahun pelajaran 2017/2018 laksanakan kegiatan Pendidikan Bela Negara (PBN) selama 3 hari dimulai dari hari Kamis (20/07) sampai dengan Sabtu (22/07).

Pelatih PBN terdiri atas 6 orang dari Koramil 07 Dawe, diantaranya adalah Sertu Hadi Suwignyo Babinsa Rejosari, Pelda Kasmono Babinsa Samirejo, Serma Efendi Babinsa Glagah Kulon, Serma Ali Imron Babinsa Margorejo, Koptu Maskuri Babinsa Tergo, dan Sertu Suwardi Babinsa Japan.

Mereka ditugaskan untuk melatih PBB para peserta didik baru tahun pelajaran 2017/2018 di lapangan pada hari Kamis (20/07) dan Jumat (21/07), kemudian pada hari Sabtu (22/07) melatih TUS (Tata Upacara Sekolah) dan apel penutupan. Pada hari Jumat (21/07) sebelum melatih PBB, petugas dari Polsek Dawe melakukan penyuluhan tentang kenakalan remaja dan bahaya narkoba terlebih dahulu.

Pelda Kasmono Babinsa Samirejo menuturkan pesan “Harapan kepada peserta didik baru harus siap menjadi siswa SMK Negeri 2 Kudus yang baik dan mempunyai dedikasi belajar dan berlatih demi membawa kemajuan dan nama baik SMK Negeri 2 Kudus dan cita-cita para peserta didik”. LS/Red