Pasangan Emas Tonis SMK N 2 Kudus Raih Emas di Eko Hadi Cup 2020

Posted Leave a commentPosted in Berita Sekolah

Kudus, Jawa Tengah, smkn2kuds.sch.id (22/9) Hari Minggu, 20 September 2020 yang lalu perkumpulan tonis di Kabupaten Kudus menyelenggarakan turnamen lomba tonis. Tonis adalah permainan yang memadukan unsur badmintondan tenis karena dimainkan dalam lapangan se-ukuran bulutangkis dan teknik bermain seperti tenis.

Turnamen tersebut diselenggarakan oleh komunitas pecinta olahraga tonis di Kudus, yang bernama Hamong Rogo Tonis Club yang bermarkas di lapangan Tonis Pule Honggosoco. Eko Hadi Cup itulah nama turnamen yang diselenggarakan. Nama tersebut diambil dari sebagai wujud rasa syukur karena telah melaksanakan tugas mengabdi (purna tugas) Eko Admono S.Pd dan Hadi Saptana S.Pd.

Sekitar 20 peserta yang mengikuti turnamen tersebut dan dimana peserta dibentuk saling berpasangan. Pertandingan turnamen tersebut ada ganda putra dan ganda campuran yang mana diikuti oleh banyak peserta. Peserta yang paling banyak mengikuti adalah Bapak/Ibu guru SD dan ada pula peserta dari guru SMK N 3 Kudus.

Tak tertinggal pula, dari SMK Negeri 2 Kudus juga ikut berpartisipasi dalam turnamen tersebut diantaranya Bapak Kusmadi, Bapak Sutiyono, Bapak Hadi Saptana, Bapak Parjan, Bapak Adi, Bapak Wahyu Sabtia dan Ibu Riau Marini.

Alhamdulillah nya, peserta dari SMK Negeri 2 Kudus yaitu Bapak Sutiyono dan Bapak Wahyu masuk ke babak semi final dan mendapatkan juara 3.

“Semoga kegiatan ini diteruskan oleh generasi yang akan datang karena olahraga ini merupakan olahraga dan bermanfaat sekali terutama bagi bapak ibu yang berusia di atas 50 tahun dan semoga olahraga ini dapat go internasional karena selama ini masih nasional”. Harap Sutiyono S.Pd. KCD/Red

Gema Indonesia Raya Kikis Amnesia Nasionalisme Pelajar

Posted Leave a commentPosted in Artikel

Cuaca sedang menawan hari ini, walau di jalan-jalan masih tersisa genangan bekas hujan semalam. Matahari dengan elegi paginya masih menyinari dan setia menemani rutinitas sehari-hari. Seperti biasanya para manusia dengan beragam tujuan berlomba-lomba berpacu pada pukul tujuh. Tak ketinggalan siswa-siswa di salah satu SMK di Sekitaran lereng Muria juga menunaikan kewajiban mereka hari ini. Sebagai seorang pelajar yang di tuntut tepat waktu sampai di sekolah maksimal pukul tujuh kurang sepuluh. Mereka telah bersiap menangkis rasa kantuk yang menghinggap. Tak lain demi mempersiapkan titian masa depan yang lebih gemilang lagi.

Lokasi tepatnya berada di SMKN 2 Kudus, satu-satunya SMK Negeri yang berada di lereng muria. Sebelum masuk ke area SMK lebih dalam lagi. Para siswa harus lebih dulu memasuki gapura SMK yang diberi nama Tri Saka Dharma. Gapura megah dengan makna filosofi yang mendalam. Gapura dengan arsitektur yang terdiri dari lima pilar dan desain buku ini menggambarkan siswa SMK dengan starta kelas yang ada. Sedangkan desain buku di pilih warga sekolah dengan pertimbangan bahwa membaca adalah awal dari segala asa untuk meningkatkan kualitas hidup serta menjauhkan diri dari jurang kebodohan. Tak ayal terdapat peribahasa “buku adalah jendela ilmu” dan “membaca adalah jendela dunia”. Dengan membaca generasi muda dapat belajar, dan bukannya tidak mungkin pemahaman mengenai kemajemukan bangsa dapat di peroleh. Sehingga hal itu dapat menjadi upaya untuk mencegah terjadinya disintegrasi bangsa.

Selanjunya para siswa bersalaman secara takzim kepada guru-guru piket yang berjajar rapi di sisi kanan dan kiri Gapura Tri Saka Dharma. Tentunya sambil mencium tangan dan mengucapkan salam. Hal itu dilakukan untuk melawan lupa terhadap budaya positif bangsa Indonesia. Menumbuhkan nilai moral untuk menghormati guru dan orang tua pada para insan pewaris bangsa perlu dilakukan, agar kelak ketika anak muda terjun langsung dalam masyarakat moral mereka tidak luntur dan akan selalu terpatri dalam setiap tindakan.

“Kurangnya pendidikan moral menjadi masalah baru, seharusnya peran guru yang ada bisa menanamkan pendidikan karakter yang lebih baik lagi”. Ujar Yosy Setyaji Guru PPKn muda.

Jam sudah menunjukan pukul tujuh kurang sepuluh, bel masuk pun sudah sampai pada indra pendengaran. Gerbang Tri Saka Dharma otomatis ditutup, meninggalkan siswa-siswa yang tak taat akan peraturan. Mereka akan menerima konsekuensi atas tindakan yang tak terpuji, berjalan jongkok dan potong bross lah yang biasanya dijadikan sanksi. Bukan untuk menghukum dan mengorek-orek kesalahan, namun agar para siswa bisa lebih disiplin dan  bertanggung jawab lagi.

Bel pertama pembelajaran sebentar lagi berbunyi seperti biasa para guru, staf tata usaha, dan karyawan telah lebih dulu menjalankan rutinitas apel pagi. Sedangkan para siswa sudah masuk dalam ruang kelas maupun lab praktik jurusan. Sebelum memulai proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), para siswa terlebih dahulu menjalankan aktivitas untuk mengokohkan karakter unggul mereka sebagai pelajar. Tak lain dan bukan ialah kewajiban menyanyikan lagu kebangsaan. Sebelumnya mereka terlebih dulu berdoa hikmat sesuai keyakinan. Meminta kepada Tuhan agar di beri kelancaran dalam proses pembelajaran.

Jika terdengar seruan aba-aba “Berdiri siap grak !” dari ketua kelas. Sikap sempurna secara otomatis harus diindahkan para penghuni kelas. Siswa-siswi beranjak dari yang semula duduk menjadi berdiri. Sorot mata mereka fokus memandang kedepan. Siap menunggu instruksi gerak isyarat dari dirigen yang akan memandu paduan suara teman sekelasnya. “Hiduplah Indonesia raya, ” pandu Sang Dirigen Kelas tepat pada ketukan ke empat.

Mereka dengan kompak mengumandangkan Lagu Indonesia Raya dengan hikmat. Lirik demi lirik lagu kebangsaan ciptaan Wage Rudolph Soepratman lancar dilafalkan para siswa, dengan mengikuti aturan nada dan irama yang seharusnya. Tanpa diiringi instrumen musik apapun para pelajar menyanyikan Lagu Indonesia Raya lengkap satu stanza. Stanza pertama, dengan satu kali ulangan pada bait ketiga stanza pertama.

“Kami terbiasa menyanyikan Lagu Indonesia Raya setiap pagi, awalnya memang agak malas sih tapi lama-lama ya enggak masalah juga. Malahan kalau enggak nyanyi rasanya ada yang kurang gitu malah tanpa sadar telah mengikis perlahan amnesia nasionalisme kami”. Ujar Abi Zakariya.

Mereka mengumandangkan lagu kebangsaan yang menjadi lambang negara itu dengan penuh rasa bangga. Bagaimana tidak, momentum hari pahlawan 10 November kemarin masih terkenang jernih dalam ingatan. Lagu Indonesia Raya menggema di ranah SMK, bersatu padu melebur bersama ruang dan waktu. Kelas-kelas lain juga melakukan aktivitas wajib serupa, dengan hanya dibatasi bilik-bilik kelas dan sekat tembok yang memisahkan. Lantunan lirik, nada, dan irama lagu Indonesia Raya jelas terdengar bahkan dalam radius puluhan meter.

Tak berhenti sampai disitu, saat bel pulang mulai berdentang dan para siswa sudah siap berkemas. Mereka tak lantas langsung pulang. Mereka terlebih dahulu berdoa dan mengucap hamdalah bersama. Berbeda dengan di awal pembelajaran, sekarang mereka diwajibkan menyanyikan lagu nasional maupun lagu daerah. Dari hari ke hari, lagu-lagu nasional dan daerah silih berganti dinyanyikan sesuai pilihan mereka. Dari mulai Lagu Garuda Pancasila, Satu Nusa Satu Bangsa, hingga suwe ora jamu menanti untuk dinyanyikan. Sekali lagi ragam lagu-lagu nasional dan daerah terdengar disuarakan lantang para siswa.

“Kami biasanya menyanyikan lagu-lagu nasional dan daerah sebelum pulang. Lagunya sih ganti ganti biasanya Garuda Pancasila, Syukur, Gundul Gundul Pacul, dll sesuai keinginan teman-teman”. Tutur Maesya Arinda menunjukan semangat cinta tanah air.

“Semangat nasionalisme remaja saat ini berbeda dengan zaman dulu, sekarang semakin banyak pilihan dalam memperjuangkan kemerdekaan misal dalam bidang teknologi, olahraga, bahkan game online sekalipun”. Tambah Yosi Setyadi guru muda yang khas dengan gingsulnya itu.

Pengorbanan para pahlawan tak patut disia-siakan. Para pemuda tinggal meneruskan jejak langkah para pahlawan yang telah tertorehkan. Menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Lagu-lagu nasional, dan daerah merupakan wujud nyata bela negara para pemuda. Para pemuda tak boleh lupa lagu kebangsaan adalah jati diri bangsa.

“Kami memang tidak ikut berperang melawan penjajah, namun kami berperang melawan rasa malas dan sikap apatis terhadap negeri”. Ujar Ketua Kelas Andre Darmawan.

“Kami menyanyikan lagu indonesia raya setiap hari, melihat bendera merah putih juga. Jika bendera di kelas kotor, teman-teman yang piket akan mencucinya bergilir”. Tambahnya dengan menunjukan sikap nasionalisme yang bermuara pada rasa patriotisme.

Lagu nasional dan daerah tak boleh kalah saing dengan gempuran lagu  rock, pop barat, dan k-pop yang terus menjadi-jadi. Lagu Indonesia Raya harus menggema di tanah ibu pertiwi sendiri. Hal itu tak dapat dikompromi lagi dan harga mati bagi kami.