Amanat Menjaga Nasionalisme

Posted on Posted in Artikel

Benedict Anderson membuat catatan menarik dalam karyanya Imagined Communities: “Itulah contoh watak nasionalisme resmi yang jelas—strategi antisipatif yang diadopsi oleh kelompok-kelompok dominan yang merasa terancam oleh pinggiran (marginalisasi) atau pengucilan (ekslusi) dari komunitas kebangsaan imajiner yang baru”.

Catatan ini menjadi sindiran, bahwa setiap bangsa memastikan dirinya memiliki kelas sosial. Dari kelas sosial inilah lahir kesenjangan-kesenjangan yang mampu melahirkan konflik. Maka model gerakan nasionalisme itu menjadikan tali perekat dari problem kesenjangan dimaksud. Nasionalisme ingin mencoba merapatkan keberbedaan yang ada. Dimana hakikat dari nasionalisme berusaha mempersatukan perbedaan.

Untuk menyatukannya tentu membutuhkan ikatan kuat. Dalam bahasa janji penduduk Indonesia diikrarkanlah komitmen: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa: Indonesia. Semua penduduk Indonesia merasakan bersama-sama lelah dan pedih saat dijajah. Sama-sama merasakan bahagia di saat merdeka. Dan kini, kemerdekaan yang telah berusia tujuh puluh tahun dinikmati secara bersama-sama.

Yang patut dikhawatirkan hari ini adalah penduduk Indonesia. Kenapa? Masihkah ratusan juta penduduknya memiliki nasionalisme? Sebuah pertanyaan yang patut untuk dijawab bersama. Ada anggapan bahwa nasionalisme penduduk Indonesia mulai luntur. Kok bisa? Bisa, karena semakin banyak muncul teroris dan menjamurnya aliran radikal. Sebab terorisme dan radikalisme lahir karena hilangnya nasionalisme.

Namun tidak perlu ragu. Di sisi lain, masih banyak penduduk Indonesia yang masih kuat memegang janji nasionalismenya. Oleh sebab itu, musuh bangsa yang berasal dari dalam negeri perlu disadarkan kembali. Ruh nasionalisme perlu kembali dibangkitkan. Rasa cinta bangsa juga perlu digugah. Sehingga semangat memiliki Indonesia dan menjadikannya maju selalu berkobar.

Menjaga Diri

Hilangnya nasionalisme karena jiwa kebangsaan mengalami gangguan. Maka gangguan-ganguan itu perlu disadarkan. Disinilah butuh kesadaran berkebangsaan. Ada pesan indah dari Syaikh Mushtofa Alghulayaini dalam kitab Idzatun Nasyi’in: “Rasa kebangsaan yang sejati adalah suka untuk memperbaiki negara, berusaha untuk melayaninya. Orang yang paling besar rasa kebangsaannya adalah orang yang bersedia mati untuk mensejahterakan negaranya dan bersedia sakit untuk menyehatkan umatnya”.

Sungguh luar biasa. Itulah yang dimaksud dengan jatidiri bangsa yang sejati. Lalu bagaimana membangun nasionalisme di masa sekarang? Yang jelas, Indonesia memiliki Pancasila. Itulah yang perlu dijaga dan dilestarikan. Bahwa Pancasila selalu menjadi ruh kehidupan berbangsa yang terpatri secara mendalam. Tentunya Pancasila yang memiliki keberpihakan kepada semua warga. Bukan Pancasila yang diterjemahkan untuk kepentingan koorporasi.

Jika ditarik dari pesan Syaikh Mushtofa di atas, maka ada pesan 4M yang perlu dijalankan dalam mempertegas nasionalisme: memperbaiki, melayani, mensejahterakan dan menyehatkan. Bahwa bangsa Indonesia yang besar ini tidak mungkin bisa dipersatukan jika pemerintah tidak tuntas menggarap 4M ini. Berikut pula, pemerintah tidak mungkin berjalan sendiri bersama aparatnya, namun haru melibatkan masyarakat.

Maka pada titik inilah sinergi pemerintah dan rakyat menjadi sangat penting. Tiga pokok dalam unsur negara harus selalu diperhatikan: penduduk (rakyat), wilayah dan pemerintah. Di sisi lain rakyat memiliki kewenangan, namun negara dalam konteks normatif juga memerankan tiga sifat: memaksa, monopoli dan mencakup semua (all encompassing, all embracing). Oleh karenanya, rakyat perlu berperan aktif mejaga komunikasi baik. Dan pemerintah tidak seenaknya sendiri dalam menjalankan fungsi 4M.

Kegagalan mempertahankan nasionalisme di negeri ini dipengaruhi kuat oleh deideologisasi Pancasila dan radikalisme agama. Dua hal ini yang menjadikan suasana persatuan dan kesatuan bangsa mengalami gesekan. Dibutuhkan solusi jitu dalam mencairkan suasana harmoni keindonesiaan yang akhir-akhir ini mengalami titik sumbatan kronis.

Deideologisasi Pancasila sengaja dilakukan oleh oknum warga yang tidak sepakat dengan prinsip hidup bernegara secara heterogen. Padahal ini menjadi ancaman serius. Ketika Indonesia sudah tidak lagi yakin dengan hidup berpancasila, ini sama dengan ingin Indonesia pecah. Maka gerakan semacam ini perlu segara diantisipasi.

Adanya kelompok yang tidak mau menghormat bendera dan tidak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya sudah nyata di depan mata. Sudah saatnya pemerintah hadir untuk melakukan pembinaan. Dengan siapa? Pemerintah tidak bisa sendirian menghadapinya. Haru bersama-sama dengan warga negara yang memiliki komitmen kuat terhadap hidup berbangsa dengan Pancasila.

Masalah radikalisme agama juga menjadi tantangan serius bagi Indonesia. Selama pemahaman agama dijadikan pilihan untuk menyalahkan agama lain, maka disitu awal dari konflik. Dan konflik agama dalam hidup berindonesia selalu berbuntut panjang. Maka komitmen untuk menjadi kerukunan agama, turut serta mempengaruhi nalar kebangsaan kita semua.

Atas dasar meneguhkan jati diri bangsa Indonesia yang memegang teguh Undang-undang Dasar 1945 dan Pancasila, maka agama dijadikan pemersatu bangsa. Caranya? Mengajak pada semua tokoh-tokoh agama untuk mengajarkan agama yang damai dan penuh cinta kasih. Negara bersama dengan warga negara melakukan giat aktif penyebaran penanaman cinta agama dan cinta bangsa.

Dengan model cinta agama dan cinta bangsa ini, bangunan nasionalisme akan berjalan secara baik. Usaha semacam ini juga tidak akan sukses tergarap dengan baik tanpa adanya kerjasama yang kuat. Sebab bangsa Indonesia dengan potensi perbedaan yang sangat besar ini butuh kerjasama yang kuat. Kemungkinan-kemungkinan adanya kesepakatan jahat merusak kesatuan Indonesia perlu dihadapi secara tegas dan penuh kearifan.

Yang jelas bahwa menjaga nasionalisme adalah amanat. Amanat yang tidak sepele, tetap amanat mulia yang sangat berat. Maka semuanya harus bersatu padu: negeri sudah tua, maka harus dijaga dengan penuh cinta kasih.

Rikza Chamami

Dosen UIN Walisongo dan Peneliti Aliansi Kebangsaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *